Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida menjelaskan, erupsi berupa awan panas terjadi pada pukul 11.24 WIB. Durasi letusan itu selama 110 detik.
"Adapun jarak luncuran sekitar 1.100 meter dari puncak. Arah luncuran ke Kali Gendol," ujarnya lewat pesan singkat.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Berdasarkan data BPPTKG, munculnya awan panas itu berpotensi menyebabkan hujan abu. Hanik mengimbau warga waspadai dengan situasi itu.
Timnya belum memantau detail situasi puncak Gunung Merapi lantaran tertutup awan. Kamera pengawas tak bisa melihatnya secara langsung kondisi terkini gunung tersebut.
Gunung Merapi yang berstatus waspada atau level II saat ini memasuki fase pembentukan guguran lava dan awan panas guguran. Fase tersebut ditandai dengan terjadinya luncuran awan panas tiga kali pada 29 Januari 2019.
Luncuran awan panas sejauh dua kilometer sempat terjadi pada 7 Februari 2019. Empat hari berselang, erupsi awan panas terjadi sejauh 400 meter.
Erupsi awan panas dengan jumlah tujuh kali terjadi pada 18 Februari 2019. Jarak luncur awan panas sekitar satu kilometer.
Sementara, volume kubah lava saat ini sekitar 461 ribu meter kubik. Ia memperkirakan, jarak luncuran awan panas masih berpotensi lebih jauh hingga hampir 3 kilometer.
Namun, saat ini jarak aman aktivitas manusia di lereng Gunung Merapi masih sekitar tiga kilometer dari puncak. "Kondisi ini masih relatif sama," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
