Ilustrasi alat pendeteksi tsunami di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4). FOTO ANTARA/Ampelsa.
Ilustrasi alat pendeteksi tsunami di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4). FOTO ANTARA/Ampelsa. (Ahmad Mustaqim)

Tantangan Penanggulangan Tsunami: EWS Rusak dan Kesadaran Rendah

tsunami bencana alam
Ahmad Mustaqim • 28 Desember 2018 20:04
Yogyakarta: Langkah antisipasi penanggulangan bencana tsunami di kawasan pesisir pantai menemui sejumlah tantangan. Mulai dari tanda peringatan atau early warning system (EWS) hingga kesadaran masyarakat yang masih harus terus dibangun.
 
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Biwara Yuswantana mengatakan, pihaknya terus berupaya menjalankan mitigasi bencana. Mitigasi itu dalam bentuk fisik hingga nonfisik. 
 
Biwara menjelaskan, Mitigasi nonfisik terus dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas masyarakat dengan pembentukan desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana. Desa di kawasan pantai selatan dibentuk dengan sejumlah pertimbangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kajian atau dasarnya dengan kajian ancaman gempa dan tsunami. Ini tertuang dalam dokumen materi mitigasi. Diharapkan mereka (masyarakat) memahami betul kondisi di lapangan," kata Biwara saat dihubungi Medcom.id pada Jumat, 28 Desember 2018. 
 
Salah satu materi peningkatan kapasitas yakni simulasi peringatan gempa yang kemudian disusul potensi terjadinya tsunami. Masyarakat, ujarnya, diarahkan ke mana lokasi aman untuk menyelamatkan diri saat ada peringatan dini tsunami.
 
"Titik amannya di mana, lalu evakuasinya seperti apa. Kami libatkan stakeholder lain, seperti polsek dan polres, serta puskesmas," jelas Biwara. 
 
Selain itu, mitigasi fisik dilakukan dengan pemasangan EWS. Ada sebanyak 28 EWS yang terpasang di pesisir pantai selatan Yogyakarta.
 
28 EWS itu tersebar di antaranya di Bantul (21 EWS), Kulon Progo (7 EWS), dan Gunungkidul (5 EWS). EWS tersebut dipasang di berbagai titik, seperti di masjid, maupun tempat khusus EWS.
 
"EWS di Bantul itu dicek setiap tanggal 26 setiap bulan. Tapi lima EWS di Gunungkidul semua rusak," ujarnya. 
 
Dalam situasi demikian, keterlibatan BPBD hingga BMKG akan penting untuk mendistribusikan informasi. Menurut Biwara, salah satu yang diandalkan juga yakni memberdayakan potensi SAR dan masyarakat di desa tangguh bencana. 
 
"Jalur evakuasi kami kira sudah kami masukkan dalam mitigasi, yakni tahapan evakuasi mencari titik aman. Namun, memang masih perlu terus memberikan pemahaman di berbagai lapisan masyarakat soal kerawanan tsunami," pungkas Biwara.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif