Wakil Bupati Gunung Kidul, Immawan Wahyudi. Medcom.id/ Patricia Vicka.
Wakil Bupati Gunung Kidul, Immawan Wahyudi. Medcom.id/ Patricia Vicka. (Patricia Vicka)

Status Tanggap Darurat Gunungkidul Berpotensi Diperpanjang

bencana alam
Patricia Vicka • 23 Maret 2019 14:27
Yogyakarta: Status tanggap darurat bencana di Kabupaten Gunung Kidul berpotensi untuk diperpanjang. Perpanjangan akan dilakukan jika cuaca ekstrim masih melanda kabupaten ini. Apalagi saat ini cuaca ekstrim diprediksi akan melanda Yogyakarta akibat siklon Veronika.
 
Wakil Bupati Gunung Kidul, Immawan Wahyudi mengatakan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mengevaluasi kembali status tanggap darurat bencana.
 
"Kalau enggak ada hujan tidak perlu diperpanjang. Tapi kalau hujan terus seperti kemarin, bisa diperpanjang (status tanggap darurat bencana)," kata Immawan di Yogyakarta, Sabtu, 23 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Immawan menjelaskan, status ini diperlukan untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana tanah longsor dan banjir. Dengan adanya status ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dapat mengkordinasikan seluruh dinas untuk bahu membahu mitigasi bencana. Selain itu BPBD dapat menggunakan anggaran tak terduga di dalam APBD Pemkab Gunung Kidul.
 
"Tahun 2019, kami anggarkan sekitar Rp3 miliar dana tak terduga. Salah satunya bisa dipakai untuk  bencana," jelas Immawan.
 
Status tanggap darurat bencana di keluarkan Pemkab Gunungkidul Lantaran terjadi longsor dan banjir. Status berlaku sejak 8 Maret hingga 27 Maret 2019.  
 
Bencana hidrometeoeologi ini mengakibatkan 147 kepala keluarga (KK) di 13 kecamatan terkena dampak. Puluhan rumah  rusak dan terendan banjir. Fasilitas pendidika dan umumpun terendam banjir dan rusak.T otal warga terkena dampak sebanyak 307 jiwa.
 
Usai status ditetapkan, Pemkab Gunung kidul memberikan sumbangan ke wilayah yang terdampak bencana diantaranya Ngawen, Ngelipar dan Purwosari. 
 
Sumbangan yang diberikan berupa alat-alat untuk membersihkan sisa banjir dan longsor. "Kami juga berikan uang senilai Rp1 juta ke kelompok warga di 12 titik. Uangnya untuk kerja bakti membersihkan longsor dan banjir," katanya.
 
Untuk mengantisipasi kejadian banjir terulang, Pemkab Gunung Kidul berencana memperluas pintu masuk Luweng (sungai dan gua bawah tanah) dibeberapa lokasi. Perluasan dibutuhkan untuk memperlancar keluarnya aliran air hujan di daerah dataran tinggi sehingga tidak meluber ke daerah yang lebih rendah. Pemkab juga terus menambah desa dan sekolah tangguh bencana.
 
"Tahun ini kami berencana menambah 10 desa tangguh bencana. Tujuannya untuk mengedukasi warga agar bisa mencegah dan mengatasi bencana secara mandiri," kata dia.
 
Warga di lokasi yang rawan bencana akan direlokasi permanen. Selama 2018, Imawan menjelaskan setidaknya ada tujuh warga yang sudah di relokasi. Empat warga berasal dari Kecamatan Ngelipar, dua warga Ngawen dan satu warga Gedang Sari.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif