“Di daerah, terutama, sulit mencari gedung khusus untuk menghadirkan karya seni berkualitas. Artinya, gedung dalam bentuk fasilitas sebuah galeri seni,” ungkap Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre Sukmana saat konferensi pers Seminar Estetik bertajuk 'Masa Depan Keindahan dalam Rezim-Rezim Seni Kini’ di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin, 20 Februari 2017.
Beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Padang telah memiliki galeri seni yang baik. Namun, banyak daerah lainnya yang galeri seninya belum memenuhi kualifikasi untuk karya berkualitas atau bahkan tidak memiliki galeri seni sama sekali.
Idealnya, lanjut Tubagus, dalam suatu kota besar terdapat gedung pertunjukan dan gedung pameran. Tubagus menambahkan gedung pameran yang memfasilitasi wilayah seni rupa, tak banyak dijumpai di daerah.
“Biasanya, ada gedung pertunjukan namun tidak ada gedung pameran,” imbuhnya.
Minimnya gedung pameran untuk karya seni berkualitas menjadi kendala Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan pameran di beberapa lokasi. Padahal pameran keliling menjadi salah satu agenda rutin Galeri Nasional Indonesia.
“Kami harus mencari gedung pameran yang benar-benar memenuhi kualifikasi dan aman. Karena tak jarang kami membawa karya-karya maesto. Karya Affandi, misalnya,” papar Tubagus.
Mengatasi hal tersebut, Galeri Nasional Indonesia tak jarang harus menata ulang gedung di daerah, tempat pameran berlangsung agar memenuhi kualifikasi. “Biasanya kemudian kami menyulap. Menyiapkan lighting, panel hingga pengamanan,” kata dia.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
