Lokalisasi ilegal yang berada di dalam Sostowijayan Kulon 3 itu sering disebut sebagia “Dolly”nya Yogyakarta.
Ketua RW 03 Sosrowiajayan Kulon, Sarjono, membenarkan sempat mendapatkan info akan masuk beberapa PSK eks Kalijodo. Namun ia menolak keberadaan wanita penghibur itu.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
“PSK dari Dolly dan dari Kalijodo saya tak mau terima. Kami kan tidak tahu bagaimana kondisi mereka,” ujar dia saat ditemui di Balai RW 03 Sosrowijayan Yogyakarta, Jumat (4/3/2016).
Sarjono mengaku meningkatkan pengawasan dan menyebarkan larangan PSK Kalijodo masuk Sarkem melalui para pemilik indekos tempat para PSK tinggal. Pasalnya, setiap PSK yang beroperasi di Sarkem harus didata terlebih dahulu.
“Kami rutin adakan pertemuan dengan ibu kos dan pemilik usaha. Seminggu dua kali. Di situ kami bisa tahu perkembangan jumlah dan kondisi para PSK,” kata dia.
Ia tidak setuju jika pemerintah hendak menutup Sarkem. Sebab, Sarkem bukan tempat lokalisasi legal dan menduduki tanah Negara seperti Kalijodo. Namun, ia tak menampik adanya tindakan prostitusi di wilayah tersebut.
“Seluruh tanah dan rumah di sini sah milik warga Sosrowijayan. Beberapa disewakan ke orang lain untuk usaha. Di sini izinnya untuk penginapan,” kata Sarjono.
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti menegaskan Yogyakarta tidak memiliki tempat lokalisasi. Namun, ia tak akan menoleransi kegiatan prostitusi yang kerap dilakukan di wilayah Sarkem.
“Kami akan tertibkan kegiatan prostitusi dengan pendekatan personal. Kami akan jelaskan bahwa mencari nafkah tidak harus seperti itu (prostitusi, red.),” kata Haryadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
