Bagi wanita yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat bayi ini, impian pergi ke Tanah Suci bagai mencari jarum di tumpukan jerami: sulit. Meski bukan tidak mungkin.
Penghasilan yang tak sampai sejuta per bulan, tak meredam impiannya. Laku prihatin atau tirakat dijalaninya bertahun-tahun demi menyisihkan ongkos haji.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Setiap bulan ia sisihkan uang sebesar Rp375 ribu. Tabungan itu dia bayarkan untuk uang muka. Ia mendaftar haji tahun 2011. Selanjutnya, pembayaran dilakukan dengan mencicil. "Desemmber besok baru lunas," kata Yaniz kepada Metrotvnews.com di rumahnya, baru-baru ini.
Yaniz sudah melakoni profesi tukang pijit bayi sejak 23 tahun silam. Keterampilan memijat didapat dari orang tuanya yang juga seorang tukang pijat. Tak hanya memijat bayi, ia juga biasa menerima pasien dewasa yang mengalami keseleo atau sekadar pegal. Dia mengendarai sepeda motor sendiri ke rumah pelanggan.
Selama bekerja Yaniz tak pernah mematok tarif. Berapa pun nilainya, dia ikhlas. "Kalau memang tidak punya, enggak masalah tidak bayar. Sehari saya bisa pijat 3-4 orang," jelasnya.
Tetangga Yaniz sekaligus pelanggan, Siti Radiyah, 33, turut merasa senang dengan kabar ini. Menurutnya kesabaran dan ketelatenan Yaniz menabung bertahun-tahun demi naik haji bisa menjadi inspirasi bagi dirinya dan warga sekitar.
Yaniz akan berangkat ke tanah suci pekan depan. Kini ia tengah mengepak baju dan mempersiapkan fisik dan mentalnya demi perjalanan ke Tanah Suci.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
