Puluhan warga Pantai Watukodok mengenakan pakaian SD untuk upacara peringatan penolakan masuknya investor. Foto: Metrotvnews.com/istimewa
Puluhan warga Pantai Watukodok mengenakan pakaian SD untuk upacara peringatan penolakan masuknya investor. Foto: Metrotvnews.com/istimewa (Ahmad Mustaqim)

Festival Kathok Abang: Sebuah Ihtiar Menangkal Pemodal

pariwisata
Ahmad Mustaqim • 25 Mei 2016 15:38
medcom.id, Gunungkidul: Puluhan orang dewasa berseragam sekolah dasar mengikuti upacara bendera di Pantai Watukodok, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (25/5/2016).
 
Warga menyebut kegiatan ini sebagai Festival Kathok Abang ('celana merah'). Prosesi hormat pada bendera di tiang bambu dengan seragam SD, bukan tanpa alasan. Ini merupakan perlawanan sekaligus sindirian warga kepada investor.
 
"Setahun lalu, Mei 2015, investor melontarkan cibiran kalau warga tak memiliki kekuatan karena mayoritas hanya lulusan SD," kata Sesepuh Pedukuhan Kelorkidul, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Yahya Yusmadi saat ditemui Metrotvnews.com.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Investor itu, sebut Yahya, adalah pihak yang hendak menguasai lokasi wisata. Menurutnya, pihak swasta akan memangkas perbukitan yang mengelilingi Pantai Watukodok. Perbukitan bakal disulap menjadi resor pribadi.
 
Yahya menyebut, langkah tersebut bisa merusak ekosistem juga lingkungan dan sosial kemasyarakatan. Karenanya, warga senantiasa berusaha untuk menyelamatkan lingkungan.
 
"Mempertahankan ruang hidup adalah tugas semua warga, apapun warna celananya," tutur Yahya.
 
Festival Kathok Abang: Sebuah Ihtiar Menangkal Pemodal
Warga doa bersama setelah upacara bendera di Pantai Watukodok, Gunungkidul, DIY, Rabu (25/5/2016). (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
 
Selama ini Pantai Watukodok dikelola secara swadaya. Yahya bilang, upaya itu berkontribusi memperbaiki kualitas ekonomi warga. Sudah ada sejumlah warga yang semula menjadi pemulung, kini memiliki toko untuk berjualan di lokasi wisata. 
 
Seorang warga Desa Kelorkidul, Suradi mengatakan penolakan masuknya investor itu juga untuk meneruskan usaha mengelola tanah yang selama ini sudah berlangsung secara turun-menurun sejak tahun 1948.
 
“Pantai Watukodok bukan hanya ruang hidup bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga sumber penghidupan bagi warga tiga dusun,” kata Suradi.
 
Suradi menambahkan, selama ini warga tidak hanya bijak memanfaatkan kawasan pesisir Pantai Watukodok. Namun warga juga mampu merawat kelestarian rupa dan fungsi pantai sebagaimana mestinya.
 
“Semua warga Watukodok berharap nantinya pengunjung bisa menikmati pemandangan alam dengan tetap mengedepankan kearifan lokal,” ucapnya.
 
Festival Kathok Abang: Sebuah Ihtiar Menangkal Pemodal
Sesepuh warga melarung sesaji ke Laut Selatan. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
 
Selesai melakukan upacara, warga kemudian menggelar doa bersama atau kenduri dengan sajian makanan hasil pertanian setempat. Kemudian, salah seorang sesepuh warga setempat melarung sesaji di lautan.
 
Dalam rangkaian Festival Kathok Abang itu, warga juga melakukan bersih pantai, gelar pangan lokal, renungan perjuangan warga, panggung kesenian, serta pemutaran film Rayuan Pulau Palsu.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif