Tak pelak, kunjungan wisata ke kawasan yang baru dibuka 2,5 tahun lalu itu meningkat. "Saya kira dampaknya sudah terasa. Banyak orang penasaran dengan wisata di Puncak Becici," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY, R. Sutarto di Kompleks Kepatihan Jalan Malioboro, Senin, 3 Juli 2017.
Sutarto mengatakan banyak potensi wana wisata yang perlu terus dikembangkan seperti Puncak Becici. Menurut dia, sudah ada sekitar 10 lokasi wisata yang hampir serupa dengan lokasi tersebut.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ia menyebut, setidaknya ada belasan wanawisata yang terus dikembangkan di Yogyakarta. Tujuh dari belasan wanawisata itu berada di kawasan hutan pinus Mangunan, Bantul, termasuk Puncak Becici.
"Lalu di ada beberapa, seperti di Klayar (Karangmojo), Mulo (Wonosari), Watu Payung (Panggang) dan Tanan Hutan Rakyat atau Tahura (Playen). Di Kulon Progo ada dua, dan kawasan Pasir Mendhit," ujarnya.
Menurut Sutarto, sebagian besar wanawisata yang sudah ada dikelola oleh masyarakat, misalnya dengan karangtaruna, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan koperasi. Kemudian, kelompok tersebut berbagi hasil dengan pemerintah.
"Dengan menjadikan hutan sebagai wisata, masyarakat memiliki terhadap kawasan hutan dan menjaga kelestariannya. Dengan banyak wisatawan bisa menjadi sumber penghasilan," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
