Giyanto (berpakaian merah) menunjukkan alat pendeteksi gempa dengan adiknya, Tri Santoso (berkaus kuning), MTVN - Ahmad Mustaqim
Giyanto (berpakaian merah) menunjukkan alat pendeteksi gempa dengan adiknya, Tri Santoso (berkaus kuning), MTVN - Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Keampuhan Alat Deteksi Gempa Bernilai Rp50 Ribu Karya Warga Bantul

gempa bumi
Ahmad Mustaqim • 11 Desember 2016 12:13
medcom.id, Bantul: Giyanto, warga Kabupaten Bantul, Yogyakarta, membuat alat pendeteksi dini gempa bumi. Giyanto membuat alat tersebut bersama sejumlah rekannya yang tergabung dalam Relawan Tanggap Jogja. 
 
Giyanto mengatakan awal mula pembuatan alat tersebut terinspirasi saat melihat seismograf di museum Gunung Merapi dan peristiwa gempa Yogyakarta 2006. Saat itu, 80 persen bangunan di dukun tersebut rata dengan tanah. 
 
Keampuhan Alat Deteksi Gempa Bernilai Rp50 Ribu Karya Warga Bantul
(Petugas tengah mengamati hasil seismograf Gunung Raung, Ant - Seno S)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Waktu kami melihat di museum Merapi lalu mikir, bagaimana caranya mengaplikasikan dengan cara sederhana dan bisa dipakai warga," kata Giyanto saat ditemui Metrotvnews.com di kediamannya, di Dukuh Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Sabtu (10/12/2016). 
 
Lalu, pria berusia 37 tahun itu menggandeng teman-temannya untuk membuat alat sederhana yang mampu mendeteksi gempa lebih dini. Setelah membuatnya, mereka lalu menguji kemampuan alat tersebut.
 
Giyanto hanya menggunakan sejumlah komponen sederhana. Misalnya pipa berdiameter satu desimeter dengan panjang 60 sentimeter hingga satu meter beserta penutup; bandul timbangan; tali pancing niklin (tali yang mengandung logam); 4 buah sekrup; kabel; baterai; dan sebuah bel rumah. 
 
"Prinsipnya waktu itu membuat semurah mungkin agar kemauan masyarakat tumbuh. Kalau memanfaatkan barang bekas habisnya bisa kurang dari Rp50 ribu," kata dia. 
 
Giyanto menerangkan, pembuatan alat pendeteksi itu mula-mula dengan melubangi salah satu tutup pipa sebagai jalan masuk tali pancing niklin yang menali bandul di dalam pipa. Di dekat bagian dasar pipa kemudian dilubangi empat bagian sebagai jalan masuk 4 buah sekrup sebagai medium untuk menyenggol bandul. 
 
Kemudian, kata dia, dari luar sekrup tersebut tersambung kabel yang mengarah ke sebuah bel. Di sisi lain, tali pancing niklin juga tersambung dengan bel. Oleh warga, alat itu diberi sebutan othok-othok. 
 
Keampuhan Alat Deteksi Gempa Bernilai Rp50 Ribu Karya Warga Bantul
(Alat deteksi dini gempa dari peralatan sederhana karya warga Bantul, MTVN - Ahmad Mustaqim)
 
"Jika bandul ada getaran dan bersentuhan dengan sekrup maka alarm bel akan berbunyi," ujar lelaki yang biasa menjadi sopir travel ini. 
 
Ia mengungkapkan, alat tersebut mesti dipasang di bagian rumah yang cukup tinggi. Biasanya, di atas dua meter. Hal ini untuk memudahkan sensitifitas jika terjadi getaran bangunan. Sementara itu, untuk membedakan jika ada getaran mobil dengan ukuran besar, alat tersebut ditempatkan di bagian yang cukup jauh dari jalan. 
 
"Sempat membuat ini ada gagal. Lebih dari tiga kali. Tapi setelah kami evaluasi, akhir bisa," katanya. 
 
Sebagai daerah yang berada di atas sejumlah lempengan bumi, seperti sesar sungai Opak, Nglanggeran, dan sungai Oya, Giyanto mengaku alat itu kini cukup membantu. 
 
"Gempa beberapa kali November lalu juga alarm bunyi. Gempa yang pusatnya di Jawa Timur juga terasa dan bisa membunyikan alarm," jelasnya. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif