Senin, 15 Agustus 2016, bertepatan dengan Senin Pahing bulan Apit pada penanggalan Jawa. Masyarakat setempat menggelar tradisi Jembul Tulakan.
Tradisi ini dilaksanakan bertepatan dengan sedekah bumi desa setempat. Selain sebagai ungkapan wujud syukur, tradisi Jembul Tulakan juga dimaksudkan sebagai bentuk dorongan semangat masyarakat terhadap perjuangan Ratu Kalinyamat.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Gunungan Jembul diarak warga.
Jelang siang, gunungan Jembul yang dibuat warga di masing-masing dukuh, dibawa menuju rumah Petinggi (kepala desa). Di sana, para pemikul Gunungan Jembul disambut tari Tayub.
Doa dipanjatkan. Secara bergantian, perangkat desa membasuh kaki Petinggi dengan air bunga. Lalu, Petinggi berjalan mengitari empat gunungan sebelum berangkat untuk diarak ke penjuru desa. “Jembul jadi rebutan warga," ujar Petinggi Desa Tulakan Sutrisno.
Warga berebut jembul untuk ditancapkan di lahan persawahan. Mereka yakin lahan bakal subur bila ditancapi jembul. “Rebutan tidak apa-apa yang penting dapat,” kata Ali, salah satu warga.
Kalinyamat
Tradisi Jebul Tulakan tak dapat dipisahkan dengan sosok Ratu Kalinyamat. Cerita bermula ketika delapan warga memimpikan hal yang sama dalam semalam. Keesokannya, mereka mendatangi Ki Demang Baroto, pemimpin wilayah Tulakan pada masa itu.
“Mendengar cerita yang sama dari warganya itu, Ki Demang Baroto meminta petunjuk pada seorang Kiai,” kata Sutrisno mengisahkan.
Petunjuknya, delapan orang itu diminta menuju tempat pertapaan Ratu Kalinyamat. Tempat itu kini disebut Sonder.
“Di lokasi tersebut ditemukan dua batang bambu. Satu bambu berisi sumpah Ratu Kalinyamat, bambu lainnya berisi jembul ('potongan rambut'). Nah, jembul itu milik Arya Penangsang,” tutur Trisno.
Dari kisah itu, kini setiap tahun diselenggarakan ritual Jembul Tulakan. Ada empat jembul yang diarak. Yaitu jembul dari Dusun Krajan yang dilambangkan sebagai sosok Sayyid Utsman. Jembul berikutnya Jembul Ngemplak. Yaitu jembul yang melambangkan tokoh Mangun Joyo.
“Ketiga Jembul Winong dan ke empat Jembul Drojo Pejing. Jembul Winong melambangkan barisan prajurit yang gagah, sedangkan Jembul Drojo Pejing melambangkan tokoh Mbah Leseh,” urai Trisno.
Sebelum tradisi Jembul Tulakan dimulai, warga memggelar Manganan. Yaitu, selamatan dilanjutkan dengan makan bersama di kantor balai desa. Ritual Jembul Tulakan dilaksanakan tiga hari setelah acara manganan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
