Jarak pemukiman dengan landasan pacu cukup dekat. Markum, misalnya. Warga Dusun Tlogowono, Berbah Sleman, itu menempati rumah yang berjarak hanya 1,5 Km dari landasan. Padahal idealnya, jarak pemukiman dengan landasan yaitu 5 Km.
Markum mengaku tak risau dengan bahaya yang sewaktu-waktu terjadi karena kedekatan jarak tersebut. Toh, peristiwa pesawat jatuh tak perbah terjadi di sekitar bandara.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Kami sudah biasa, tidak terganggu. Ibaratnya, warga sudah kebal dengan suara pesawat," kata pria berusia 49 tahun itu, Jumat (3/7/2015).
Nasib tak beruntung dialami Suyono. Suyono menjadi bagian dari 90 KK yang terdampak akibat adanya pelebaran bandara pada 1995, tepatnya di Dukuh Tlogowono, Desa Bakungan, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia sudah tak mengingat lagi luasan lahan yang digunakan untuk pelebaran lokasi bandara.
Suyono pada tahun itu juga pindah tidak jauh dari lokasi sebelumnya, di Pedukuhan Jagalan, Kampung Jagalan, Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Kini, meski jaraknya tak lebih dari dua kilometer dari landasan pacu bandara, ia mengaku tetap nyaman menjalani kehidupan.
"Pesawat yang lewat tidak usah dihiraukan. Ibaratnya, Anda bisa nanya bagaimana orang yang hidup di lereng Gunung Merapi. Sewaktu-waktu mereka juga bisa terkena sesuatu juga," kata lelaki 50 tahun ini.
Bandara Adisutjipto, kata dia, sudah ada sejak ia lahir. Pasalnya, bandara yang dulunya bernama Maguwo ini sudah berdiri sejak 1940 untuk keperluan militer. Pada 17 Agustus 1952, bandara Maguwo berubah nama menjadi Adisutjipto dan diberlakukan untuk penerbangan sipil pada 1972.
Kini, segala sesuatu bisa terjadi di sekitar pemukiman Bandara Adisutjipto. Tak hanya lantaran lokasinya tidak ideal, namun juga penerbangan sipil dengan TNI AU yang masih menjadi satu menjadi ancaman lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
