Penyebabnya, para korban tidak mendapatkan pengawasan dari ibu mereka sebagaimana mestinya. Kasih sayang hanya diberikan ayahnya. Bahkan, jika ayahnya bekerja, pengasuhan dilakukan kakek dan neneknya.
Kantong-kantong yang menjadi daerah rawan kekerasan bagi anak tersebut di antarnya, Kecamatan Larangan, Songgom, Bulakamba, Losari, Tanjung dan Kersana.
Hasil pantauan di Dukuh Temukerep, Desa Larangan, Rabu, 11 Mei, banyak anak kecil yang hidupnya bersama kakek dan neneknya. Di kampung ini, jumlah warga yang bekerja ke luar negeri mencapai ratusan.
Alina, bocah lima tahun ini sehari-hari diasuh kakek dan neneknya, Mujahidin, 64, dan Rukhoyah, 64. Ibu Alina, Sahrurotun, 27, bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hong Kong. Sedangkan ayahnya, Eko Susanto, 28, menjadi satpam di Jakarta.
Untuk mengobati rasa kangen, Alina kadang berbicara melalui telepon. Kalau ayahnya satu bulan sekali pulang ke kampung halamannya menengok Alina. Namun, wajah polos anak ini seperti tidak merasa kekurangan kasih sayang, meskipun sehari-hari bersama kakek dan neneknya.
Pembantu Kadus Temukerep, Mahmud mengatakan, ratusan warganya memilih bekerja menjadi TKW di Arab Saudi, Hong Kong, dan Taiwan. Hal ini menyebabkan kenakalan remaja kerap menyebabkan terjadinya tawuran.
Hal sama terjadi Desa Mundu, Kecamatan Tanjung. Ketua Bina Keluarga TKI Desa Mundu, Warsa mengaku, kondisi anak-anak yang ditinggal ibunya pergi bekerja ke luar negeri tak jauh berbeda di wilayahnya.
Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Tiara, Rini Pujiastuti mengatakan hingga Maret 2016 jumlah kekerasan anak dan gender sebanyak 38 kasus, dan 90 persen di antaranya kekerasan seksual pada anak.
Dari kasus kekerasan pada anak, sekitar 70 persen terjadi di wilayah yang menjadi kantong TKI. Seperti kasus incest atau kekerasan seksual ayah kandung kepada anak terjadi di Desa Binangun, Kecamatan Songgom.
Korban IT disetubuhi ayah kandungnya sendiri saat ibunya tengah bekerja sebagai TKI di Arab Saudi. Perbuatan Slamet Wahyudi, 45, pada anaknya yang masih berusia 15 tahun ini sudah dilakukan sejak dua tahun lalu.
“Bulan kemarin, ada 3 kasus ayah kandung setubuhi anaknya yang kami tangani. Jadi ini seperti bom waktu, karena anak-anak tanpa pengawasan orangtua yang semestinya ,” ungkapnya.
Rini menjelaskan, PPT Tiara terus berupaya melakukan pembinaan terhadap keluarga TKI. Selain itu, membentuk jaringan satgas anak di desa untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Saat ini baru ada 17 desa yang sudah terbentuk.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Brebes, Ipda Budi Supartoyo mengatakan hingga April 2016, telah menangani 14 kasus kekerasan anak. Hampir semua kasus kerekasan seksual pada anak dengan korban anak-anak perempuan atau pun laki-laki.
Kasus yang terbaru di Desa Pamulihan, Kecamatan Larangan. Pencabulan terjadi pada WT, siswi kelas 1 SMP oleh ayah tirinya. Ibunya bukan TKI tapi bekerja sebagai buruh tani. Tersangka sudah diamankan di Polres Brebes.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
