Ratusan pengguna jalan panik setelah terjadi gempa bumi 5,9 skala ritcher dan mendengar isu tsunami tanpa menghiraukan rambu lalu lintas di perempatan Gejayan, Yogyakarta, Sabtu (27/5). (Ant/Regina)
Ratusan pengguna jalan panik setelah terjadi gempa bumi 5,9 skala ritcher dan mendengar isu tsunami tanpa menghiraukan rambu lalu lintas di perempatan Gejayan, Yogyakarta, Sabtu (27/5). (Ant/Regina) (Ahmad Mustaqim)

Yogya 27 Mei, dari Selatan Tsunami di Utara Teriak Merapi

gempa
Ahmad Mustaqim • 27 Mei 2016 14:11
medcom.id, Bantul: Pagi 27 Mei bermula seperti hari lainnya. Tak ada yang istimewa, subuh berkumandang, lalu orang-orang memulai atau bahkan telah beraktivitas.
 
Termasuk Langgeng Waluyo. Seperti hari yang lain, warga Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong itu pun telah berada di pasar ikan Kabupaten Bantul. 
 
"Tiba-tiba saya seperti di ombak. Mobil di pasar sampai ada yang terlempar," kata Langgeng kepada Metrotvnews.com, Jumat (27/5/2016). 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Langgeng mengaku, ia merasa tanah pijakannya bergelombang cukup lama. Kelak, BMKG merilis gempa terjadi selama 57 detik pada pukul 05.53 WIB. Gempa tektonik itu berkekuatan 5,9 skala Richter.
  
Tak lama usai gempa terjadi, Langgeng segera bergegas pulang ke rumah. Tak disangka, rumah tempat tinggalnya ambruk secara keseluruhan, termasuk para tetangganya.
 
Ia mengaku bersyukur lantaran istri tercintanya selamat dari bencana itu. "Istri saya pegangan pohon rambutan yang ada di dekat rumah," ucapnya.
 
Melihat kondisi itu, Langgeng bergegas mengajak sang istri ke kediaman orangtuanya yang berjarak 400 meter dari Sungai Oya yang menjadi pusat gempa. Kondisi rumah orangtua Langgeng pun serupa, hampir seluruh bangunan rata dengan tanah.
 
"Habis gempa seperti kabut tebal. Debunya bertebaran akibat banyak bangunan yang runtuh," kenang Langgeng.
 
Yogya 27 Mei, dari Selatan Tsunami di Utara Teriak Merapi
Warga salat di reruntuhan bekas musala yang hancur akibat guncangan gempa. (Ant/Maha Eka Swasta)
 
Entah siapa yang memulai, beberapa jam setelah gempa ada teriakan tsunami. Warga semakin panik. Orang-orang berhamburan, tunggang langgang.
 
Dengan truk, mobil pribadi, sepeda motor, atau apa saja supaya bisa lari ke utara. Tak sedikit pula bocah terpisah dari orangtuanya yang lari entah ke mana. Jalan Parangtritis maupun Jalan Bantul penuh sesak kendaraan yang melaju menjauhi laut.
 
"Yogya saat itu sangat chaos. Yang dari selatan ke utara, yang dari utara lari ke selatan," kata Rio, warga Sagan, Yogyakarta. 
 
Sebelum gempa mengguncang, perhatian warga Yogya tertuju pada erupsi Gunung Merapi. Malah, hampir semua stasiun televisi berlomba menyiarkan secara langsung erupsi merapi. "Tahu-tahu digoyang dari selatan," tambahnya. 
 
Tak cukup sampai di situ. Kondisi diperparah dengan saluran listrik yang mati total, bahkan sampai dua minggu.
 
"Selesai gempa itu ada hujan. Ya warga bikin tenda dengan bahan reruntuhan bangunan buat berlindung," timpal Langgeng.
 
Kepala Dusun Potrobayan, Sayudi mengatakan, ada 13 warga yang tewas akibat gempa 10 tahun silam itu. Sementara, warga yang mengalani luka berat dan ringan mencapai 70 orang.
 
Usai terjadinya gempa, Sayudi segera melihat kondisi warganya dengan mendatangu saban rukun tangga (RT). "Saya mengajak warga melakukan pendataan. Dari yang harus mengungsi, ke rumah sakit, sampai yang meninggal dan dimakamkan satu liang lahat," katanya.
 
Dalam catatan BPBD Kabupaten Bantul, bencana 10 tahun silam itu merenggut 4.143 jiwa. Selain korban jiwa, jumlah kerusakan bangunan mencapai 71.372 bangunan rusak berat dan 66.359 rusak ringan. 
 
"Kini, warga membuat bangunan rumah konstruksinya dibuat dengan beton. Ini lebih baik daripada bangunan saat gempa 2006 yang tanpa susunan konstruksi yang kuat," ucapnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif