Dulu, kata sejarawan Pantura wilayah Brebes, Wijanarto, kampung pecinan berlokasi di Brebes Kota, Losari, dan Bumiayu. Kampung pecinan dibuat sesuai regulasi Wijkenstelsel 1860 di zaman pemerintah Kolonial Belanda.
Pada 1949, warga Tionghoa di Bumiayu mengalami revolusi. Mereka mengungsi ke Purwokerto dan Cirebon, Jawa Barat. Mereka menghindari dari aksi antiCina di Jawa yang bergulir sejak 1946 hingga 1949. Mereka pun dicap tak nasionalis.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Di satu sisi komunitas Cina punya laskar Po An Tui yang membantu Belanda. Sejarah kelam Cina di Bumiayu tak diketahui generasi sekarang," kata Wijanarto, Minggu (7/2/2016).
Losari menjadi kampung pecinan paling tua di Brebes. Buka Summa Oriental karya Tom Pires menyebutkan Losari dengan Locarij. Di bawah kekuasaan kerajaan Demak, Locarij atau Losari menjadi bandar pelabuhan. Aktivitas dagang menjadi alasan kedatangan warga Tionghoa.
Pada 1999, Losari menjadi korban amukan massa di era reformasi. Warganya mengungsi. Banyak toko yang dirusak dan dibakar. Beberapa penduduk tewas.
"Klenteng Losari pun dirusak," kata Wijanarto yang menjabat sebagai Kepala Seksi Sejarah Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes.
Lain lagi dengan warga Tionghoa yang bermukim di Brebes Kota. Mereka hidup berpindah-pindah. Rumah penduduk pun berdampingan dengan pemakaman warga Tionghoa. Yang tersisa hanya klenteng dan rumah toko.
Warganya meninggalkan kawasan pecinan itu sejak peristiwa Tiga Daerah tahun 1965. Saat itu, gelombang antibirokrat pendukung kolonial dan antiEropa bergejolak. Aksi tersebut merembet menjadi gerakan antiCina.
"Ada juga revolusi sosial 1946 hingga 1949, juga mempengaruhi keberadaan etnis Tionghoa di Brebes," lanjut Wijanarto.
Namun demikian, jejak peninggalan warga Tionghoa masih tampak di beberapa sudut Kabupaten Brebes. Misalnya klenteng, pemakaman, dan rumah toko yang pernah ditempati warga Tionghoa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
