medcom.id, Yogyakarta: Sebuah perahu kertas raksasa yang terbuat dari koran terpajang rapi di lapangan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ada pula burung kertas dari Jepang Tsuru raksasa, kincir angin raksasa, gasing raksasa dan patung anak main layang-layang di sampingnya.
Perahu kertas raksasa ini bukan untuk dinaiki, tapi untuk dipamerkan dalam pameran mainan tradisional dan pagelaran seni tradisional anak-anak yang bertajuk 7 Oktaf 2015. Acara ini digelar pada Jumat (24/4/2015) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Mainan tradisional anak-anak kini mulai hilang ditelan modernisitas. Jika dulu anak- anak senang bermain gasing, perahu kertas atau layang-layang namun kini mainan tradisional mulai tergantikan oleh video game dan gadget.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Hal itulah yang mendasari mahasiswa Sanata Dharma mengadakan pagelaran seni 7 Oktaf 2015.
"Kami ingin melestarikan budaya asli Indonesia dan mainan anak-anak. Sengaja kami pamerkan mainan tradisional raksasa ini untuk mengingatkan kembali masa-masa kecil setiap orang," ujar ketua panitia acara, Alexander Angga Pramudya di Yogyakarta, Jumat (24/4/2015).
Ide pembuatan mainan anak-anak ini dicetuskan oleh UKM Sexen Sanata Dharma dan memakan waktu pembuatan sekitar tiga bulan.
"Kami mulai membuatnya dari Februari 2015 dengan tenaga sekitar 20 orang. Kalau sedang waktu senggang saja membuatnya," ujar mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris ini.
Perahu kertas raksasa ini berukuran sekitar dua meter dengan panjang sekitar 3 meter. Kerangka perahu terbuat dari bambu yang diikat dengan kawat. Lapisan luarnya ditutup dengan ratusan kertas koran yang dilem manual.
Selain memamerkan mainan tradisional, para pengunjung diberikan kesempatan untuk mencoba mainan daerah yakni Otok-otok dan pesawat kertas. Pengunjung bebas memutar otok-otok dan melemparkan pesawat terbang kertas hanya dengan membeli tiket acara seharga Rp20 ribu.
Salah satu pengunjung acara, Cecilia mengaku senang dengan adanya acara ini. Ia seperti merasa kembali ke masa kecilnya saat memainkan otok-otok.
"Mainan tradisional itu seperti mendekatkan kita dengan sesama. Lebih seru dibandingkan main game dan gadget, rasa kebersamaannya kurang," tukas wanita berkacamata ini.
Dalam acara ini digelar pula pentas musik yang menampilkan 13 lagu-lagu tradisional anak-anak. Musik yang dimainkan diaransemen ulang dengan nuansa tradisional bercampur musik modern dan orkestra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(MEL)
