Kampung Ketandan merupakan satu dari tiga wilayah pecinan di Yogyakarta. Sebuah gapura besar dengan arsitektur khas warga Tionghoa menjadi penanda identitas kampung.
Tjundaka Prabawa merupakan tokoh Tionghoa yang bertempat tinggal di Ketandan. Ia mengisahkan awal mula kampung itu. Pada 1760 hingga 1831, seorang bupati bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadingrat berasal dari Ketandan. Nama asli sang bupati yaitu Tan Jin Sing.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Itu saya telusuri berdasarkan sisi etnografi, dan kebetulan saya penyuka fotografi etnografi," kata Tjundaka saat ditemui belum lama ini.
Tjundaka mendapat informasi Tan merupakan putra bangsawan keturunan Jawa. Ibunya bernama Raden Ayu Patrawijaya yang merupakan keturunan Sultan Amangkurat dari Kerajaan Mataram. Sementara ayahnya merupakan warga keturunan Tionghoa.
Kedua orangtua Tan meninggal. Seorang warga bernama Oei The Long pun mengangkatnya sebagai anak.
"Dia (Tan Jin Sing) besar di lingkungan Tionghoa dan pandai. Dia menguasai tiga bahasa, Mandarin, Hokian, dan Inggis. Selama delapan tahun ia pernah hidup di Klenteng," ujarnya.
Kemampuan itu menjadikan Tan dewasa turut andil dalam membangun Kampung Ketandan. Ia juga memanfaatkan kecakapan itu untuk menjalin hubungan akrab dengan seorang petinggi Belanda yaitu Thomas Stamford Bingley Raffles. Kecakapan itu juga membuat Sri Sultan Hamengku Buwono III memberikan jabatan Bupati Ketandan pada Tan.
Saat menjabat sebagai bupati, Tan memiliki banyak tanah "Lalu, tanah kepunyaannya dipisah-pisah setelah punya banyak keturunan," ungkapnya.
Rumah peninggalan Tan masih tampak di Ketandan. Bangunannya memadukan arsitektur Jawa, Eropa, dan Tionghoa. Sultan HB III sempat menghuni rumah Tan.
Dulu, kata Tjundaka, Ketandan bernama Tonda. Sebelum berganti nama, Sultan HB III meletakkan prasasti di kampung tersebut. Setelah itu, warga sepakat mengganti nama kampung menjadi Ketandan.
"Tapi saya tidak tahu ditaruh di mana (prasastinya). Entah sekarang masih ada atau tidak," ujarnya.
Hingga kini, Ketandan dihuni secara turun temurun. Sedikitnya 400 orang bertempat tinggal. Sebagian besar mereka berprofesi sebagai pedagang dan wirausaha.
Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Purwanta, mengaku tak gampang menelusuri peninggalan sejarah di Kampung Ketandan. Data dan literatur soal Kampung Ketandan minim.
"Sejarah di Indonesia jarang mengungkap kedatangan dan menetap bangsa Cina ke Yogyakarta," ujarnya.
Ketandan, menurutnya, berasal dari Tonda atau berarti tanda. Maknanya, kampung itu memiliki arti penanda masa lalu. Dahulu, tempat ini menjadi lokasi penarikan pajak yang kemudian diserahkan ke pihak keraton.
"Kemungkinan namanya itu, berasal dari Tanda, nama untuk petugas retribusi," kata dia.
Selain Ketandan, warga Tionghoa pun bertempat tinggal Pajeksan dan Patuk. Dua wilayah itu juga berada di Kota Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
