Lorong Sarkem tampak sepi. Di luar Ramadan, lorong ini selalu dipadati pengunjung dan PSK. (Metrotvnews.com/Patricia Vicka)
Lorong Sarkem tampak sepi. Di luar Ramadan, lorong ini selalu dipadati pengunjung dan PSK. (Metrotvnews.com/Patricia Vicka) (Patricia Vicka)

Sepi Order, PSK Sarkem Pilih Pulang Kampung

prostitusi
Patricia Vicka • 09 Juni 2016 17:42
medcom.id, Yogyakarta: Aktivitas prostitusi Pasar Kembang alias Sarkem, Yogyakarta dibatasi dan diawasi ketat selama Ramadan. Pekan pertama puasa, para pekerja seks komersial (PSK) dilarang melakukan menjajakan diri.
 
Aktivitas prostitusi baru bisa dimulai pada minggu kedua hingga keempat bulan Ramadan. Itu pun hanya boleh menjajakan jasa setelah pukul 22.00 WIB hingga 03.00 WIB. Dan, tak boleh menjajakan di pinggir jalan.
 
Praktis, mereka sepi orderan. Tak sedikit PSK memilih pulang kampung ketimbang tetap berada di Sarkem.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Besok mau mudik saja. Di sini enggak bebas kerja. Sepi. Mending istirahat di kampung," ujar salah seorang PSK berinsial FN, saat disambangi Metrotvnews.com di Sarkem, Kamis (9/6/2016).
 
Sementara itu, Sarjono, Ketua RW 03 Sosrowijayan tempat Sarkem berada, menjelaskan penerapan aturan ketat ini diberlakukan untuk menjaga kekhusyukan dan kesucian bulan puasa.
 
Ia pun membenarkan jumlah PSK yang masih berada di Sarkem berkurang drastis. "Yang masih ada di sini paling sekitar 30-40 persennya saja. Sisanya mudik," katanya.
 
Sepi Order, PSK Sarkem Pilih Pulang Kampung
Pengajian di kawasan Pasar Kembang alias Sarkem, Yogyakarta. (Metrotvnews.com/Patricia Vicka)
 
Ia tak main-main menerapkan aturan. Bersama dengan kepolisian ia rajin melakukan patroli dan pengawasan ke rumah-rumah bordir di wilayahnya.
 
Selama bulan puasa, warga sarkem mengajak para PSK untuk mengikuti kegiatan rohani seperti buka puasa bersama, tarawih dan pengajian bersama. Kegiatan rohani ini rutin digelar setiap tahun oleh warga untuk memberikan kesempatan para PSK mendekatkan diri pada Tuhan.
 
"Pengajian bersama rutin ada. Biasanya dipimpin oleh Gus Miftah dan diadakan di Balai RW Sosrowijayan. Biar bagaimanapun mereka juga manusia yang harus diperlakukan seperti manusia," pungkas Sarjono.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif