Kepala Polresta Yogyakarta, AKBP Tommy Wibisono mengatakan sejumlah pemuda yang ditangkap di antaranya karena dianggap melakukan pemukulan terhadap anggotanya. Hal itu terjadi sesaat setelah polisi menyakan identitas pemuda Papua yang mengendarai sepeda motor.

Salah satu mahasiswa asal Papua yang ditangkap aparat Polresta Yogyakarta, Jumat (15/7/2016). (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Baru ditanya, memukul anggota saya. Anggota polisi memeriksa karena yang bersangkutan enggak pakai helm, dan enggak bisa menunjukkan SIM dan STNK," kata Tommy, Jumat (15/7/2016).
Tommy menjelaskan, para pemuda yang ditangkap saat ini dibawa ke Polda DIY. Menurutnya, para pemuda tersebut sedang menjalani pemeriksaan.
Sebelum penangkapan, para pemuda di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I Yogyakarta berencana melakukan aksi damai bertajuk Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Papua Barat.
Sejak pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, puluhan aparat kepolisian menjaga asrama itu. "Kalau muatan yang mereka bawa seperti itu tidak boleh. Ini negara berdaulat kan," kata Tommy.

Polisi berjaga di depan Asrama Mahasiswa Papua di Yogyakarta. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
Tommy membantah jika pasukannya mengepung asrama mahasiswa Papua itu. Menurutnya, pasukannya hanya memberikan pengamanan.
Pantauan Metrotvnews.com, aparat dalam jumlah cukup banyak bersiaga di lingkungan asrama itu. Beberapa petugas juga menyisir hingga perkampungan Miliran di belakang asrama.
"Hanya mengamankan saja. Nanti masyarakatnya tidak bisa berlalu lintas kalau mereka aksi. Penjagaannya sampai masyarakat merasa nyaman. Ini hanya kelompok kecil saja yang melakukan aksi seperti ini," ungkap Tommy.
LBH: diskriminasi rasial
Kepala Departemen Advokasi Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, Rizky Fatahillah ikut mendampingi para pemuda Papua tersebut. Ia mengkritik, polisi telah menangkap tujuh pemuda Papua secara sewenang-wenang dan tanpa dasar hukum yang jelas.
"Mereka ada yang ditangkap di jalan kampung Miliran. Dan menurut informasi sempat dipukuli dan empat lainnya ditangkap saat di jalan ingin membeli logistik untuk mahasiswa di asrama. Polisi melakukan penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas, hanya karena mereka papua. Sangat jelas ada diskriminasi rasial," ujarnya.
Rizky menyatakan, Aliansi Mahasiswa Papua memutuskan membatalkan aksi yang direncanakan. Pembatalan itu, kata dia, karena sedari awal polisi menghalang-halangi dengan menolak pemberitahuan aksi. Menurutnya, hal tersebut inkonstitusional dan melanggar HAM.
"Ada upaya yang berlebihan karena sedari kemarin juga yang design oleh pihak tertentu. Pihak tersebut menghubungkan dengan rencana aksi damai hari ini agar terlihat ada kerusuhan dan stigmatisasi pemuda Papua melakukan aksi anarkis, seperti perusakan, pelemparan batu, dan lainnya melalui pesan di media sosial," ungkapnya.

Puluhan aparat bersiaga di depan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I Yogyakarta. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Rizky juga menganggap ada upaya pengerahan massa kelompok ormas intoleran yang sering melakukan kekerasan pada kelompok minoritas dan rentan. Massa tersebut, tambahnya, dikerahkan untuk diperhadapkan dengan rencana aksi damai pemuda Papua.
"Polisi terlihat membiarkan aksi mereka yang juga membawa peralatan seperti tongkat pukul yang kuat dugaan untuk melakukan kekerasan," ujarnya.
Pantauan Metrotvnews.com, puluhan anggota ormas tampak di depan Asrama Mahasiswa Papua Kamasa I dengan menyuarakan menolak rencana aksi. Sebagian dari anggota ormas memegang pentuang kayu dan bambu.
Saat ini, puluhan aparat masih melakukan penjagaan di wilayah itu. Namun, polisi telah membuka akses Jalan Kusumanegara yang sebelumnya ditutup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
