Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Syahbandar Jepara Suripto mengatakan, kondisi sandaran kapal saat ini miring. Sebagian badan jalan menuju pelabuhan juga retak-retak, sehingga sangat berbahaya jika dilalui.
"Jadi, pondasi setpel menggantung. Kemudian, air menggerus tanah di bawah beton jalan. Ini akibat pengerukan yang terlalu ke pinggir," kata Suripto, Minggu, 26 Februari 2017.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Suripto menerangkan, panjang tembok yang ambles sekitar 111,8 meter. Tembok sudah mengalami penuruan sekitar 5 hingga 10 centimeter.
"Kalau kemiringannya, kami belum mengukur. Tapi, sementara pagar tak bisa difungsikan," papar Suripto.
Menurut Suripto, pihaknya sudah mengirim surat kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Jepara pada 21 Desember 2016. Namun, belum ada tindakan hingga sekarang.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap pada Dislutkan Jepara Adi Sasongko mengatakan, pihaknya tidak tahu pasti mengenai proyek pengerukan Sungai Wiso. Namun, pihaknya sudah koordinasi dengan kabid lama yang menangani proyek tersebut.
"Rencana akan dipasang beton penyangga. Kalau proyek fisik di penetapan, kami memang tidak ada. Kami belum tahu nanti di perubahan," ujar Adi.
Sebelumnya, akhir 2016 lalu muara Sungai Wiso dikeruk karena mengalami pendangkalan. Proyek pengerukan ditangani Dinas Kelautan (Dislutkan) Jepara. Tak berselang lama, pagar tembok untuk sandaran kapal mulai ambles.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(NIN)
