Tsaqif, demikian balita itu disapa, juga harus bertahan menghadapi rasa sakit di kepala. Luka itu diperoleh ketika kecelakaan menerpanya bersama kedua orang tua, 22 Desember 2016, silam.
Takas Prasetianto, 25, kakak sepupu Taqif, mengaku masih ingat betul ketika bocah 4 bulan masih ceria sebelum pergi bersama orang tuanya, Sutrisno dan Sri Kanthi Prihatin.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Mereka rencananya mau pergi ke rumah saudaranya di Mlati, Sleman," ujar Takas saat dijumpai di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta baru-baru ini.
Setelah pamitan, kedua orang tua yang sama-sama berusia 34 tahun itu berboncengan sepeda motor. Tsaqif digendong Sri Kanthi. Mereka berangkat dari kediamannya di kawasan Mancasan, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta.
Rute jalan yang dilalui, Jalan Magelang. Tak ada yang menyangka, diperjalanan mereka tertabrak sebuah mobil dari arah berlawanan. Bahkan, mereka sempat terseret beberapa meter.
Akibat kecelakaan itu, lanjut Takas, Sutrisno meninggal seketika. Sri sempat dibawa ke RSUP Dr Sardjito meski nyawanya tak tertolong. Beruntung, Tsaqif selamat meski mengalami luka dan dirawat di rumah sakit yang sama.
"Dik Tsaqif kemungkinan dipegang erat sama ibunya saat terseret. Kepalanya sempat ada benturan sehingga ada pendarahan," ujarnya.
Memperoleh penanganan maksimal, Tsaqif kini kondisinya semakin membaik. Meskipun, sang bocah belum sadar.
Tsaqif si balita dan Wildan si bocah harus bisa menerima takdir. Keduanya harus melanjutkan hidup tanpa kedua orang tua. "Mereka akan dirawat saudara, ada pak de dan bu de yang rumahnya tidak jauh," kata dia.
Wildan, tambah Takas, yang duduk di kelas 1 SMP tetap masuk sekolah seperti biasa. Bocah itu telah menerima kepergian kedua orang tua tercinta. "Kalau selesai pulang sekolah, Wildan ke rumah sakit menunggu adiknya sama pak de," kisahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
