Ukar adalah pria asal Bogor, Jawa Barat. Ia pindah ke Solo sejak 1980. Alasannya, tak lain dan tak bukan, karena menikahi wanita Solo.
Untuk bertahan hidup, Ukar mengayuh becak. Sehari-hari, ia menanti warga yang hendak menggunakan jasanya di kawasan Solo Grand Mall.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Sejak itu pula, Ukar hilang kontak dengan keluarganya di Bogor. Sekali pun tak pernah ia bertemu dengan sanak famili maupun kerabat.

(Ukar Sukardi, penarik becak yang berpartisipasi di acara pernikahan Gibran-Selvi di Solo, Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)
Namun pada 2015, kabar baik tak hanya menghinggapi Presiden Jokowi yang hendak menikahkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka dengan Selvi Ananda. Tapi, Ukar pun mendapatkan kabar haru.
Ukar menjadi salah satu tukang becak yang berpartisipasi dalam acara pernikahan Gibran-Selvi. Ia bertugas mengantar tamu pernikahan dengan menggowes becaknya ke lokasi pernikahan, Graha Buana Saba, pada 11 Juni mendatang.
Beberapa kali wajah Ukar dan teman-temannya muncul di televisi. Hingga akhirnya, seorang perempuan menemuinya.
.jpg)
(Ukar menggowes becaknya dalam gladibersih persiapan pernikahan Gibran-Selvi di Solo, Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)
Saat tengah menggowes sepeda di awal Juni 2015, seorang perempuan bernama Tini mendekat. Ukar sempat bingung. Lalu Tini mengatakan bahwa dirinya adalah keponakan pria tersebut. Setelah itu, keduanya pun bersalaman dan saling melepas rindu.
"Tentu saya senang sekali. Sudah puluhan tahun tidak bertemu, akhirnya dapat berjumpa lagi," ujar Ukar bahagia menceritakan kembali pertemuan dengan kerabatnya beberapa waktu lalu.
Saat Metrotvnews.com menghubungi, Senin 8 Juni, Tini membenarkan dirinya adalah keponakan Ukar. Ia kini bertempat tinggal di Mojogedang, Karanganyar.
"Saya lihat ada pengemudi-pengemudi becak yang terlibat membantu pesta pernikahan presiden. Ada satu orang yang sepertinya saya kenal. Ketika saya lihat namanya ditulis Ukar Sukardi. Langsung saya telepon ibu dan memastikan nama uwak. Begitu benar, saya langsung memutuskan untuk mencarinya," ungkap perempuan berusia 36 tahun itu.
Tini mengaku kesulitan menemukan pamannya itu. Ia pun mencari informasi melalui internet dan keterangan beberapa pengemudi becak. Lalu, ia menemukan Ukar di tempat mangkalnya.
"Begitu saya lihat orangnya saya langsung yakin itu paman saya. Akhirnya saya peluk dia sambil saya bilang 'Assalamualaikum'. Saya tidak bisa menahan tangis," ungkap Tini.
Dengan pertemuan itu, Ukar pun mulai menjalin komunikasi dengan kerabatnya di kampung halaman. "Kalau ada rejeki nantinya saya ingin pulang ke Bogor," harap Ukar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
