Putra pasangan Pupung Purfadillah dan Lestari ini telah mengalami infeksi mata kanan dan mengakibatkan indra penglihatannya tak berfungsi pada 2013. Setelah itu, penyakit tersebut menjalar ke mata kanan. Agustus 2014, Daffa divonis mengidap kanker mata stadium IV dari Rumah Sakit Mata dr. Yap, Yogyakarta.
Bahkan, sejak dua bulan terakhir, kanker tersebut membentuk seperti gumpalan daging sebesar kepalan tangan orang dewasa. Sekaligus, kedua matanya menjadi tak bisa difungsikan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Ayah, Ayah. Sini..," Kalimat itulah yang sering terucap dari mulut Daffa jika mengetahui ditinggal ayahnya lewat indra pendengar. Sang ayah merupakan orang yang paling dekat dengan Daffa setelah ibunya.
"Maunya ditemenin saya. Kalau ditinggal ngamuk biasanya," kata Pupung saat ditemui di kediamannya di Dusun Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, Senin (22/6/2015).
Pupung menjelaskan Daffa sejak kecil kerap sakit. Pada 2012, bocah tersebut pernah mengalami penyakit kulit di punggung. Namun, dua bulan berselang bisa sembuh setelah menempuh pengobatan herbal.
Tak lama berselang, ia kembali dihinggapi penyakit tumor di kepala bagian belakang. Penyakit tumor tersebut juga bisa sembuh usai mengonsumsi obat herbal dari Jepang sebanyak empat botol yang per botolnya dibeli seharga Rp1,2 juta.
"Sakit-sakit sebelumnya sudah sembuh dengan pengobatan herbal," ujar Pupung.
Hingga kini, Daffa dengan penyakit kankernya tetap memilih jalan pengobatan herbal. Sang ayah tak tega melihat anaknya yang selalu menolak jika diajak ke rumah sakit. Berulang kali Daffa diajak berobat seperti ke RSUP Sardjito dan RS Mata dr Yap. Namun, Daffa mengatakan, "Gak mau (ke rumah sakit). Tak tendang nanti Sardjitonya," kata Pupung menirukan anaknya.
Alasan itulah yang membuat Pupung terpaksa merawat jalan anaknya dengan pengobatan herbal hingga kini, walaupun sebetulnya mereka telah memegang kartu BPJS Kesehatan. Beragam informasi sebenarnya sudah ia cari mengenai penyakit kanker. Justru kadang hal itu membuatnya tak tega melihat anaknya.
Pupung menegaskan biaya bukan menjadi alasan utama tidak membawa Daffa ke rumah sakit. Kendati, ia telah menggadaikan sertifikat tanahnya ke bank untuk membiayai rawat jalan Daffa dengan dibantu beternak lele di samping kanan rumahnya. Tak hanya itu, tawaran bantuan juga sudah datang dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI) untuk membantu pengobatan.
Sebagai ayah, Pupung terus berusaha merayu anaknya untuk mau berobat ke rumah sakit. Daffa yang terkulai lemas di atas kasur setiap harinya harus selalu berada di bawah pengawasan ayah dan ibunya. Pasalnya, tak jarang, dari celah gumpalan di mata Daffa keluar darah dan harus dibersihkan.
"Daffa itu dulu sukanya nyanyi-nyanyi dan bersepeda saat kecil. Jika ingat itu saya jadi tidak tega. Dalam hati ingin keajaiban Daffa bisa sembuh dengan pengobatan alternatif," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
