Batu tersebut ditemukan Juwanto, 28, warga setempat, pada Sabtu (30/5/2016) dan baru diambil keesokan harinya.
Juwanto tak sengaja menemukan batu tersebut. Pada Sabtu sore, ia sedang mencari rumput untuk ternak peliharaannya. Hampir sepanjang jalan ia merasa diikuti burung Papasan. Ketika berhenti di atas sebuah batu besar, kotoran burung jatuh ke atas sebuah batu.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ia kemudian memanggil saudaranya, Sayono, 38, untuk mengecek batu itu. "Seolah dikasih petunjuk, kejatuhan kotoran burung," kata Sayono yang merupakan kakak Juwanto, di tempat tinggalnya, Rabu (3/6/2015).
Penasaran dengan batu itu, Juwanto dan Sayono mengajak dua orang keesokan harinya pada pukul 07.00 WIB. Mereka dengan susah payah menggunakan linggis untuk mengambil batu seberat 3,5 kuintal dengan lebar 70 sentimeter dan tinggi 30 sentimeter itu.

(Penampakan batu kristal lavender)
Mereka berhasil mengambil batu tersebut walaupun sedikit terbelah. Namun, belahan batu itu yang memperlihatkan sebuah keajaiban. Di dalam batu itu, berkerlipan batu ungu serupa bunga lavender.
Di bagian luar, batu memiliki warna seperti solar layaknya batu yang biasanya dijadikan akik. "Awalnya setangkep (menjadi satu), gak ketok (tidak terlihat)," kata Sayono sambil menunjukkan batu.
Batu tersebut lalu diangkat delapan orang dan dibawa ke rumah Sayono dengan memakai mobil. Di rumahnya, para warga yang sempat antre melihat, menamakan batu tersebut batu kristal lavender. Disebut kristal lavender karena berwarna seperti bunga lavender.
Hingga kini, batu tersebut masih disimpan di rumah Sayono. Dari beberapa orang yang hendak menawar dipersilakan, namun ia mengaku tak hendak menjualnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
