Narti, 50, dan keluarganya terpaksa tinggal di gubuk reyot yang hampir roboh, di Desa Panjunan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jateng. (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi)
Narti, 50, dan keluarganya terpaksa tinggal di gubuk reyot yang hampir roboh, di Desa Panjunan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jateng. (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi) (Kuntoro Tayubi)

Puluhan Rumah di Pemalang Tidak Layak Huni

kemiskinan
Kuntoro Tayubi • 20 April 2016 19:29
medcom.id, Pemalang: Kemiskinan mengakibatkan Narti, 50, dan keluarganya tinggal di gubuk reyot yang hampir roboh. Gubuk itu berada di Desa Panjunan, RT 10 RW 01, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
 
Gubuk reyot beralaskan tanah, berdinding bambu, dan beratap seng ini sudah dihuni Narti dan ketiga anaknya selama puluhan tahun. Tak hanya itu, beberapa kayu penyangga rumah juga terlihat lapuk dan keropos. Kondisi gubuk juga sudah agak miring.
 
Kondisi ini membuat Narti dan keluarganya hidup penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Lantaran setiap saat tempat yang ditingalinya bisa ambruk. Ketakutan mereka bertambah manakala hujan deras disertai angin kencang.
 
“Takut dan khawatir kalau rumahnya ambruk, apalagi kalau hujan dan angin, saya dan anak-anak terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. Sebab bocor dan lantai jadi licin,” kata Narti, Rabu (20/04/2016).
 
Narti mengaku, tidak dapat berbuat banyak. Ia hanya membiarkan gubuknya dalam kondisi seperti itu. Selain tidak memiliki biaya untuk memperbaiki, penghasilan suaminya sebagai nelayan tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
 
“Pemerintah hanya memberikan bantuan beras miskin sebanyak 7 kg saja, harusnya kan 15 kg, dan belum ada bantuan untuk rehab rumah,” ungkapnya.
 
Kepala Desa Panjunan, Jubaedi mengatakan, di desanya ada sekitar 800-an kepala keluarga yang masuk dalam kategori keluarga miskin dan terdapat sebanyak 61 rumah tidak layak huni seperti yang dialami Narti.
 
“Kami sudah mengajukan proposal bantuan rehab rumah kepada pemerintah kabupaten, namun belum terealisasi. Masih menunggu anggaran dari pusat,” kata Jubaedi.
 
Pihaknya juga telah mengajukan sebanyak 20 rumah tak layak untuk mendapatkan bantuan rehab tahap pertama dengan alokasi anggaran Rp20 juta per rumah. Namun hingga saat ini belum terealisasi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif