Anggota komunitas Jogja Nyah Nyoh sedang menambal jalan. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
Anggota komunitas Jogja Nyah Nyoh sedang menambal jalan. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim) (Ahmad Mustaqim)

Jogja Nyah Nyoh, Saweran Tambal Jalan

komunitas
Ahmad Mustaqim • 15 Januari 2017 12:36
medcom.id, Yogyakarta: Sekitar enam orang dengan mobil bak terbuka dan sejumlah sepeda motor menepi di Jalan Yogyakarta-Solo, atau kawasan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Lampu penerangan sederhana mereka nyalakan.  
 
Karung berisi pasir, semen, air, serta cangkul pun mereka turunkan dari mobil. Mereka menuju sebuah lubang berdiameter 1,5 meter dan kedalaman sekira 3-5 sentimeter. Tak sampai setengah jam, lubang jalan telah tertutup cor.
 
Apa yang enam orang itu lakukan adalah bagian bentuk tindakan gerakan yang mereka sebut Jogja Nyah Nyoh. Dalam bahasa Jawa, nyah nyoh berarti 'memberi dengan ikhlas tanpa berharap sesuatu'. Tujuannya, menumbuhkan dan melestarikan gotong royong. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini sebetulnya sudah kami lakukan sejak 2015 tapi belum ada nama gerakannya. Lalu pada 19 Februari 2016, dinamai Jogja Nyah Nyoh," ujar sang koordinator, Arditya Eka Sunu saat ditemui Metrotvnews.com baru-baru ini. 
 
Berbagai macam orang dengan latar belakang telah tergabung dalam gerakan Jogja Nyah Nyoh. Mulai dari karyawan swasta, warga kampung, hingga dosen dan mahasiswa. Ada pula yang berprofesi sebagai arsitek. 
 
Tanpa melihat latar belakang, mereka punya satu tujuan: peduli sesama. Kegiatan menutup jalan berlubang dilakukan malam hari karena agar tidak menggangu lalu lintas.
 
"Kebanyakan (anggota Jogja Nyah Nyoh) itu mereka yang pernah jatuh akibat jalan yang berlubang. Kita ingin masyarakar tak apatis dan mau gotong rotong," ujarnya. 
 
Jogja Nyah Nyoh, Saweran Tambal Jalan
Anggota komunitas Jogja Nyah Nyoh sedang menambal jalan.
 
Kritik cat semprot
 
Arditya menuturkan, gerakan Jogja Nyah Nyoh awalnya dari inisiatif menandai jalan berlubang dengan cat semprot warna putih. Garis putih di jalan berlubang itu sebagai tanda bahaya agar pengguna jalan lebih hati-hati. 
 
Selain itu, tanda itu sebagai bentuk masukan sekaligus kritik ke pemerintah bahwa ada fasilitas umum, yakni jalan raya, yang segera memerlukan penanganan.
 
"Sederhananya, kita ingin tak ada orang jatuh (akibat jalan berlubang), mau orang biasa atau pejabat," ungkapnya. 
 
Garis cat semprot dianggap tak efektif, gerakan Jogja Nyah Nyoh memutuskan menutup lubang jalan yang membahayakan dengan adonan pasir dan semen secara mandiri. Arditya mengakui, mereka menggunakan dana saweran atau iuran seikhlasnya untuk membeli perlengkapan seperti semen, pasir, hingga cangkul. 
 
Setiap hari, kata dia, saban anggota menyisihkan minimal Rp1.000 untuk saweran. "Ini murni patungan, tak ada sponsor," kata dia. 
 
Dalam menjalankan aksinya, lanjut Arditya, mulanya turun ke jalan dilakukan seminggu tiga kali. Kurun waktu berjalan, mereka kini hanya seminggu sekali turun ke jalan menutup lubang jalan. 
 
Meski seminggu sekali, mereka telah mengonsep matang ruas jalan berlubang mana saja yang akan ditutup. Setidaknya, gerakan Jogja Nyah Nyoh sudah menjangkau empat kabupaten dan satu kota madya di DIY. 
 
Misalnya, selepas mereka menutup jalan berlubang di Jalan Yogyakarta-Solo, mereka lanjut ke Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta. "Pernah dulu sampai waktu subuh, sekarang kita batasi," jelasnya. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif