Demo siswa SMA Negeri 1 Mlonggo Jepara, Jawa Tengah, menuntut kepala sekolah diberhentikan. (Metrotvnews.com/Rhobi Shani)
Demo siswa SMA Negeri 1 Mlonggo Jepara, Jawa Tengah, menuntut kepala sekolah diberhentikan. (Metrotvnews.com/Rhobi Shani) (Rhobi Shani)

Siswa Menuding Kepala SMAN 1 Mlonggo Jalankan Kurikulum Tuhan

pendidikan
Rhobi Shani • 09 Januari 2017 11:20
medcom.id, Jepara: Setelah peristiwa hukuman berlari dalam guyuran hujan, proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah, Senin (9/1/2017), belum berjalan normal. Para siswa malah berdemonstrasi menuntut kepala sekolah dipecat.
 
Selain pemberian hukuman pada Jumat (6/1/2017) lalu, para siswa menilai aturan dan kebijakan yang ditelurkan Kepala SMAN 1 Mlongo Gunawan dinilai merugikan. Siswa menuding kebijakan tidak sesuai dengan aturan pendidikan pada umumnya.

Siswa Tuntut Kepala SMA Negeri 1 Mlonggo Jepara Mundur

 Misalnya, kata siswa bernama Awalia Lailatul Khasanah, siswa putri diwajibkan membawa mukena. Bila tidak membawa, siswi tak diizinkan masuk area sekolah.
 
“Jadi mukena itu ibaratnya tiket masuk sekolah, kalau tidak bawa tidak boleh masuk sekolah. Meskipun ada siswi putri yang sedang berhalangan, juga diwajibkan membawa,” ujar Aulia.
 
Selain itu, semua siswa muslim diwajibkan salat zuhur berjemaah. Jika tidak, akan diberi hukuman. “Salat itu diabsen satu-satu. Ada absennya tersendiri,” kata Aulia.
 
Menjadi kepala sekolah, Gunawan juga dinilai tidak patut dicontoh. Sebab, setiap siswa yang melakukan kesalahan acapkali dikatakan hewan. “Apakah itu pantas diucapkan kepala sekolah kepada siswanya,” tandas Aulia.
 
Siswa lainnya, Nofa Yukha menambahkan, bentakan-bentakan kasar tidak hanya Gunawan lontarkan pada siswa. Tapi juga kepada guru. Sering Gunawan memarahi guru di hadapan ratusan siswa lantaran tak memakai bros bendera merah putih.

Dihukum di Tengah Guyuran Hujan, 11 Siswa Tumbang 

“Tuntutan kami kepala sekolah diganti,” seru Nofa dihadapan Sekertaris Daerah Kabupaten Jepara Sholih, disambut tepuk tangan meriah ratusan siswa.
 
Sejumlah kebijakan yang dikeluarkan Gunawan juga dinilai merugikan siswa dalam proses pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar sering terganggu dengan aktivitas kebersihan. Setiap hari Jumat, proses pembelajaran ditiadakan, diganti dengan kegiatan bersih-bersih mulai pukul 07.00-10.00 WIB.
 
“Katanya ilmu pengetahuan tidak penting. Dia punya kurikulum sendiri, yaitu Kurikulum Tuhan,” pungkas Nofa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif