"Dua anak yang kritis itu, satu anak usia lima tahun dari Suryowijayan dan satu anak usia enam tahun dari Kadipiro," kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Trisno Heru Nugroho di kantornya, Selasa (16/2/2016).
Heru menjelaskan, pasien DB yang masuk di RSUP Dr Sardjito terbilang tinggi. Pada 2015, ada 241 pasien DB dirujuk ke rumah sakit. Dari jumlah itu, 28 di antaranya meninggal dunia.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Sementara, di Januari 2016 sudah ada 25 pasien DB, dan satu pasien meninggal. Yakni warga Margoluwih, Seyegan, Sleman. "Pasien meninggal saat di UGD karena sudah mengalami sakit sebelumnya," ujarnya.
Hingga pertengahan bulan Februari ini, sudah ada 27 pasien DB yang masuk. Belum ada yang meninggal dan 19 pasien dari jumlah itu sudah diizinkan pulang.
Bila dijumlah, sepanjang dua bulan pertama 2016, RSUP Dr Sardjito telah menangani 52 pasien. Trisno mengungkapkan, kasus DB di Yogyakarta terbanyak di Sleman, disusul Bantul dan Kota Yogyakarta. Menurutnya, ada kecenderungan pasien yang masuk di RSUP Dr Sardjito dari daerah-daerah yang pernah terjadi DB, seperti Depok dan Kalasan di Sleman serta di Umbulharjo dan Suryowijayan, Kota Yogyakarta.
"Kenapa selalu di situ? Kita mempertanyakan kepedulian masyarakat. Kenapa tidak serempak mengadakan kerja bakti," ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat yang anggota keluarganya dalam kondisi panas segera ke rumah sakit. "Kalau ditangani cepat, bisa ditekan angka kematian akibat DB," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
