Dalam peti jenazah, Ganif tampak mengenakan pakaian motor trail berwarna merah bercorak hitam. Tangannya berbalut sarung tangan hitam dan memeluk kitab Injil di dadanya. Sedangkan kakinya memakai sepatu boot hitam sebagaimana yang biasa digunakannya saat ngetrail.
Helly Barniati, istri Ganif meyakini suaminya akan bahagia jika mengetahui jenazahnya disemayamkan dengan pakaian kesayangannya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Saya dan teman-temannya kemarin ngobrol, kayaknya suami saya akan lebih bahagia kalau dia dimakamkan menggunakan pakaian trail," kata Helly sebelum keberangkatan jenazah di RS Bethesda, Yogyakarta, Minggu (21/6/2015).
Beberapa bulan sebelum meninggal, Helly menerangkan ada teman Ganif yang hendak meminta pakaiannya. Namun, Ganif tidak mau memberikan. Helly menilai Ganif sangat sayang dengan barang-barang kepemilikannya, sehingga tidak ingin memberikan ke orang lain.
"Saat suami saya meninggal saya ingat itu. Dan akhirnya saya putuskan biar barang kesayangannya tetap bersama dia," ucapnya.
Ganif sudah mengendarai motor trail sejak 2010. Sedari kecil dia telah menggeluti olahraga down hill dengan menggunakan sepeda. "Dulu suka sepeda dari kecil. Dia nyaman sekali dengan kegiatan ini sampai lupa waktu dan umur," ujarnya.
Ganif meninggal akibat penyakit kanker yang ia derita sejak tiga bulan lalu. Kendati sakit, ia tetap menyempatkan diri ngetrack bareng teman-temannya. "Dua bulan lalu dia masih ngetrack. Padahal sudah sakit sejak tiga bulan ini," katanya.
Di RS Bethesda, ratusan bikers yang merupakan rekan Ganif datang untuk menyampaikan penghormatan terakhir. Bagi mereka, Ganif adalah sosok orang tua, sahabat, sekaligus guru yang mau bergaul dengan rekan-rekannya yang masih muda.
Selepas ibadah digelar, jenazah Popo diberangkatkan ke pemakaman Blunyah Gede, Mlati, Sleman, Yogyakarta sekira pukul 14.20. Jenazah berangkat dengan diiringi konvoi para biker.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
