Tokoh masyarakat Karimunjawa Sucipto menyampaikan, tradisi ini sebagai bentuk syukur masyarakat Karimunjawa kepada sang Ilahi. Kegiatan itu juga menjadi pengharapan agar saat musim angin barat tiba, warga selalu diberi keselamatan.
“Tidak hanya itu, Barikan Qubro ini juga sebagi wujud persaudaran antar sesama. Tidak hanya warga beragama islam, warga non muslim juga ikut. Begitu juga dengan warga dari suku Madura, Bajo, dan Bugis juga ikut. Tidak hanya masyarakat Jawa saja,” papar Sucipto di Alun-alun Karimunjawa.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Tradisi Barikan Qubro dmulai usai shalat Ashar. Kaum ibu-ibu dari rumah datang ke perempatan jalan desa dengan membawa Buceng, tumpeng kecil berisi garam, kacang hijau, telor, dan minyak goreng. Setelah semua warga berkumpul, tokoh agama memimpin doa. Selanjutnya, lima tumpeng besar diarak keliling desa sebelum dilarung.
Barikan Karimunjawa digelar tiap tahun setiap hari Jumat wage pada bulan Sura penanggalan Jawa. Tradisi itu menyambut musim angin barat dengan syukur. Dalam acara itu, warga juga memanjatkan doa agar selamat dan sehat.
Karimunjawa memiliki potensi wisata berupa panorama laut. Wisatawan biasanya memanfaatkan keindahan itu dengan menyelam.
Banyak titik snorkeling yang indah di bawah perairan Karimunjawa. Aneka terumbu karang dan ikan bermacam warna menghiasi pemandangan bawah laut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
