Keluarga Sokheh warga Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, setiap hari makan nasi aking. (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi)
Keluarga Sokheh warga Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, setiap hari makan nasi aking. (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi) (Kuntoro Tayubi)

Keluarga di Brebes Tinggal di Gubuk dan Kerap Makan Nasi Aking

kemiskinan
Kuntoro Tayubi • 28 Maret 2016 12:29
medcom.id, Brebes: Program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan belum sepenuhnya menjangkau seluruh masyarakat. Sebuah keluarga di Desa Slatri ini adalah adalah satu contoh.
 
Keterbatasan ekonomi membuat keluarga Sokheh tinggal digubuk. Sehari-hari, keluarga miskin warga Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengkonsumsi nasi aking. 
 
Sokheh tinggal bersama anaknya, Atikah, dan Sudinah, ibunya. Mereka menempati bedeng yang tidak layak huni. Selain atapnya banyak yang berlubang, tiang penyangga rumah juga sudah miring dan hampir roboh.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keluarga ini hanya mengandalkan Sokheh, yang bekerja serabutan, sebagai tulang punggung keluarga. Atikah, anaknya tidak memiliki penghasilan, dan Sudinah kondisinya sudah sangat renta dan hanya bisa berbaring di kursi.
 
Sebagai kepala keluarga, Sokheh tidak memiliki penghasilan tetap. Tidak setiap hari ada orang yang membutuhkan tenaganya. Tidak mengherankan, jika keluarga ini sering memakan nasi sisa yang telah kering atau nasi aking. Lazimnya, nasi aking dipakai peternak untuk pakan ternak bebek. Namun oleh Sokheh, nasi aking dimasak ulang dan dikonsumsi bersama keluarga.
 
Sokheh mengaku, terpaksa menyantap aking karena tidak memiliki uang untuk beli beras. Saat ini beras kualitas biasa dijual Rp7.500 per kg. Sedangkan nasi aking hanya dibeli seharga Rp2.500 per kg.
 
“Kalau tidak punya uang sama sekali, saya kadang minta nasi aking pada tetangga,” kata Sokheh, kemarin.
 
Mengkonsumsi nasi aking, menurut Sokheh bisa menghemat pengeluaran. Karena nasi aking akan membuat rasa kenyang lebih lama dibanding nasi biasa. Sementara, untuk menggugah selera makan, Sokheh mencampur dengan garam dan lauk ikan asin.
 
Meski tergolong warga miskin, Sokheh sampai saat ini tidak pernah menerima bantuan, termasuk bantuan rumah tidak layak huni.
 
“Bantuan yang diterima hanya beras miskin dari desa, 10 kilogram setiap bulan,” pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif