Ilustrasi. Foto: Antara/Muhammad Deffa
Ilustrasi. Foto: Antara/Muhammad Deffa (Patricia Vicka)

Mustahil Menutup Sarkem

prostitusi
Patricia Vicka • 05 Maret 2016 11:39
medcom.id,Yogyakarta: Keberhasilan Pemerintah DKI Jakarta menutup lokalisasi Kalijodo memacu pemerintah provinsi lain melakukan hal serupa.
 
Ditambah, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa berharap Indonesia bisa bersih dari lokalisasi pada 2019. Melalui Dinas Sosial di setiap daerah, Khofifah berharap pemda mampu menggusur lokalisasi.
 
Namun, rencana Mensos itu sepertinya sulit diterapkan di Yogyakarta. Pasar Kembang atau Sarkem yang selama ini dikenal sebagai tempat prostitusi sulit untuk ditutup karena wilayah yang terletak di dalam Sosrowijayan ini berdiri secara legal dan bukan tempat lokalisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketua RW 03 Sosrowijayan, Sarjono, mengatakan Sarkem tidak mungkin ditutup seperti Kalijodo. Sebab, kata dia, tanah di sana sah milik warga, bukan milik pemerintah seperti di Kalijodo.
 
"Di sini tidak mungkin ditutup. Rumah di sini tidak mungkin digusur pemerintah. Karena tanah dan rumah di sini milik sah warga Sosrowijayan yang menempatinya," tutur Sarjono ditemui di Balai RW Sosrowijayan Yogyakarta, Sabtu (4/3/2016).
 
Ia juga tidak takut adanya desakan sekelompok ormas  yang meminta agar Sarkem ditutup. Desakan itu disampaikan kepada pengurus RT dan RW di Sosrowijayan Kulon 3 dalam bentuk surat. Namun ia tak mau menyebutkan nama ormas tersebut.
 
Menurut dia secara legal rumah-rumah di Sarkem terdaftar sebagai perumahan warga yang dijadikan sebagai penginapan. Sepanjang Jalan Sosrowijayan terkenal sebagai penginapan murah bagi para backpacker. Namun, ia tak menampik adanya tindakan prostitusi di wilayah itu.
 
Ia menjelaskan prostitusi terjadi di bilik karaoke dan panti. Para PSK yang aktif terdata berjumlah 200 orang dan sebagian besar adalah warga pendatang. Mereka, kata Sarjono, ada yang tinggal di indekos di rumah warga Sosrowijayan. Adapula yang indekos di luar Sosrowijayan dan datang ke Sarkem hanya saat bertransaksi.
 
Salah seorang PSK berinisial FN membenarkan adanya kabar desakan penutupan Sarkem. Usai penutupan Kalijodo, desakan tersebut semakin kencang. Dirinya kini merasa was-was dan khawatir jika desakan tersebut benar-benar terjadi.
 
“Kalau Sarkem ditutup, saya bingung mau kerja di mana. Saya tak mungkin pulang kampung,” tutur wanita asal Jawa Barat ini.
 
Wanita bertubuh sintal, tinggi dan berkulit putih ini mengaku sudah berprofesi sebagai wanita penghibur sejak dua tahun lalu. Di hari normal ia bisa melayani tiga hingga lima pelanggan dengan durasi sedang. Namun, jika akhir pekan ia sanggup melayani hingga delapan pelanggan dalam sehari. Sekali bertransaksi wanita berambut panjang yang menggunakan make up tebal ini memungut biaya Rp200 ribu-Rp400 ribu. Mahal murahnya bergantung dari durasi permainan.
 
“Saya lebih suka pelanggan orang tua daripada anak muda. Mintanya tak aneh-aneh dan simple. Apalagi yang sudah berumur bisa cepat selesai dan saya tak capek,” kata dia.
 
Menurutnya, peniadaan lokalisasi dan tindakan prostitusi adalah sesuatu yang mustahil. “Selama masih ada pria nakal, ya akan tetap ada (prostitusi),” kata dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif