Menginjakkan kaki di komplek bangunan tersebut, nuansa sejarah langsung menyergap. Ciri khas Belanda masih tertinggal. Pintu setinggi lebih dari dua meter dengan jendela besar menghiasi salah satu sisi gedung.

(Wajah Mako Lanal Tegal tempo dulu. Foto: Dokumen Lanal Tegal)
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Bangunan tersebut awalnya diperuntukan bagi National Hadels Bank NV, sebuah bank Belanda. Lalu beralih fungsi menjadi kantor Yala Gita Dwi. Pada 1960, gedung itu menjadi Pangkalan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Kini, menjadi bagian Lanal Tegal.
“Ada beberapa bangunan yang sudah pernah direnovasi,” kata Perwira Staf Operasi Lanal Tegal, Kapten Laut (P) Rully Tri Anggoro, ditemui beberapa waktu lalu. Namun, renovasi yang dilakukan tidak mengubah bentuk asli bangunan.
Ia mengatakan bangunan itu merupakan saksi sejarah berdirinya angkatan laut di Indonesia. “Kota Tegal merupakan salah satu kota saksi sejarah berdirinya angkatan laut di Indonesia,” kata dia.

(Aula Sardjoe merupakan salah satu gedung yang masih dipertahankan bentuk aslinya)
Pangkalan TNI Angkatan Laut Tegal tumbuh dan berkembang di Kota Tegal dimulai dengan adanya Pangkalan Corps Armada IV (CA-IV) Tegal pada 14 Oktober 1945. Buku sejarah TNI AL periode perang kemerdekaan 1945-1950 mencatat 14 Oktober hingga 18 Oktober 1945 merupakan awal penggagas adanya pangkalan angkatan laut.
Saat itu, terjadi pertempuran terus-menerus di Semarang sehingga sebagian kekuatan TKR Laut Semarang mengundurkan diri dan berkonsolidasi di Tegal. Hingga pada 14 Oktober 1945, Oemar Said menggagas pendirian nama Pangkalan ALRI dengan nama Pangkalan ALRI CA.IV Tegal.
Pangkalan tersebut beroperasi mulai dari Losari sampai Kabupaten Batang. Dalam sejarah perkembangannya Pangkalan CA IV Tegal mempunyai Sekolah Angkatan Laut (SAL) dan Sekolah Perwira (SP).
Jelang agresi militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Pangkalan CA.IV Tegal secara operasional digabung dengan Pangkalan III Cilacap dan Corps Mariners. Namun, dalam pertempuran di Sragi, Semarang, Pangkalan CA.IV Tegal terdesak dan mundur menuju Kalibakung.

(Seorang anggota Lanal tengah menunjukkan gambar yang menunjukkan sejarah TNI AL di Kota Tegal)
Rully mengatakan Pangkalan CA.IV Tegal merupakan salah satu Pangkalan ALRI terbesar pada periode 1945 hingga 1950. “Ada tujuh batalyon saat itu,” katanya.
Pada 1947 jumlah personil CA.IV Tegal beranggotakan sekitar 5.000 personel yang tergabung dalam tujuh batalyon Corps mariners, tiga kompi PTL, unsur-unsur armada dan staf Pangkalan Corps Mariners. Sedangkan pada 1950 kekuatan CA.IV Tegal terdiri dari empat grup dengan total anggota sekitar 2.000.
Tahun 1950, sesudah penyerahan Kedaulatan RI oleh Belanda, pangkalan mendapat perintah panglima angkatan laut untuk berangkat ke Surabaya, Jawa Timur. Pangkalan CA.IV Tegal kemudian dilikuidasi dan dialihkan ke Surabaya.
“Sedangkan daerah hukum CA.IV Tegal diserahkan kepada kesatuan AD Resimen 13/Divisi III Diponegoro,” kata Rully.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
