Mbah Gotho tinggal di kediaman cucunya di Dukuh Segeran RT 018 RW 008, Desa Cemeng, Sambungmacan, Sragen. Ia meninggal pada pukul 18.00 WIB di rumah tersebut.
Kerabat Mbah Gotho, Suwarni membenarkan kabar kematian kakeknya. "Benar. Meninggal dunia sekitar adzan magrib tadi," ungkapnya saat dihubungi, Minggu, 30 April 2017.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Suwarni menambahkan, sebelum meninggal dunia, kondisi fisik Mbah Gotho lemas. Bahkan beberapa hari tidak mau makan dan tidak mau minum.
Namun menurut pengakuan Suwarni, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Mbah Gotho sempat meminta berdiri. "Maunya bangun. Ingin berdiri terus. Padahal kondisi fisik tidak memungkinkan," jelas Suwarni.
Mbah Gotho akan dimakamkan di TPU Tanggung di Dukuh Segeran, Sambungmacan Sragen pada Senin, 1 Mei 2017.
Pria kelahiran 31 Desember 1870 tersebut sebelumnya juga sempat dilarikan ke RSUD Dr Soehadi Prijonegoro Sragen pada 12 April 2017 lalu. Saat itu dokter mendiagnosis Mbah Gotho kekurangan asupan makanan. Enam hari berselang, Mbah Gotho diizinkan kembali ke rumahnya.
Memiliki usia panjang, ternyata justru membuat Mbah Gotho ingin lekas meninggal dunia. Ketika hidup, tak hanya menyampaikan keinginannya pada keluarga dan orang-orang di sekitarnya, Mbah Gotho pun sudah menyiapkan piranti kematiannya seperti batu nisan serta penutup liang lahat.
"Nanti saat Mbah Gotho dimakamkan akan memakai piranti yang beliau persiapkan sejak lama," pungkas Suwarni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(DEN)
