Proses produksi daging rajungan kemasan di Desa Prapag Kidul, Losari, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2015). (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi)
Proses produksi daging rajungan kemasan di Desa Prapag Kidul, Losari, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2015). (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi) (Kuntoro Tayubi)

Eskportir Rajungan Kemasan di Brebes Lesu

ekspor tuna
Kuntoro Tayubi • 11 September 2015 16:48
medcom.id, Brebes: Naiknya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, tidak serta merta dinikmati produsen rajungan ekspor. Di Brebes, Jawa Tengah, pengusaha daging rajungan kemasan justru mengalami penurunan permintaan.
 
“Padahal, biasanya naiknya nilai tukar dolar merupakan kesempatan menangguk untung besar bagi para pengusaha rajungan kemasan,” kata Muhaimin, pengusaha rajungan kemasan di Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Brebes, Jumat (11/9/2015). 
 
Namun, momentum pelemahan rupiah kali ini tak bisa dimaksimalkan. Pasar rajungan kemasan di Amerika telah diserbu rajungan dari Tiongkok dan India yang lebih murah. Rajungan asal Brebes tak bisa bersaing di tataran harga jual.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Muhaimain menjelaskan, tingginya biaya produksi dan mahalnya harga rajungan dari nelayan, membuat harga jual rajungan kemasan ikut mahal. Satu kilogram rajungan kemasan bisa mencapai Rp120 ribu per kilogram.
 
Sementara, harga rajungan kemasan serupa dari Tiongkok dan India jauh lebih murah. Dengan turunnya permintaan rajungan kemasan ini, beberapa pengusaha di Desa Prapag Kidul telah merumahkan karyawannya.
 
“Usaha rajungan untuk kondisi sekarang sedang memprihatinkan, dalam arti kurang begitu baik. Meskipun dolar semakin tinggi, tapi usaha rajungan makin rendah. Ini disebabkan persaingan dagang di luar Indonesia lebih murah,” kata Muhaimin.
 

(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif