Ilustrasi Ayam. MI/BARY FATHAHILAH.
Ilustrasi Ayam. MI/BARY FATHAHILAH. (Mustholih)

Harga Ayam Ras di Jateng Kembali Stabil

daging ayam
Mustholih • 04 Juli 2019 09:35
Semarang: Harga ayam ras di Jawa Tengah sudah kembali normal di tingkat peternak. Sempat anjlok menjadi Rp6 ribu sampai Rp7 ribu per ekor, harga ayam ras kembali naik menjadi Rp19 ribu sampai Rp20 ribu.
 
"Sudah ke kondisi normal. Sesuai acuan dari Pemerintah Rp20 ribu. Tapi dari kandang, harga ayam Rp19 ribu sampai Rp20 ribu per ekor di Pantura, Sragen, sampai Kebumen," kata Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Jawa Tengah, Parjuni, kepada Medcom.id, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 4 Juni 2019.
 
Menurut Parjuni, kembali naiknya harga ayam ras itu disebabkan para peternak berinisiatif mengurangi pasokan. Momen Lebaran dipilih oleh para peternak untuk meliburkan kandang dari aktivitas peternakan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Waktu panen kita itu sekarang. Sementara masuknya bibit satu minggu sebelum lebaran. Seminggu sebelum lebaran posisinya kosong. Banyak peternak yang libur, jadi (pasokan) berkurang 35 sampai 40 persen dari kondisi normal," ujar Parjuni menegaskan.
 
Parjuni menyatakan kenaikan harga di tingkat peternak itu tidak berimbas pada melambungnya harga ayam ras di tingkat pasar. "Di tingkat pedagang ada kenaikan, tapi tidak banyak. Hitungannya keluar kandang Rp20 ribu, pedagang bisa jual Rp33-Rp34 ribu. Pada saat harga terpuruk di Rp6 ribu sampai Rp9 ribu, pedagang masih bisa jual Rp28 ribu sampai Rp32 ribu," jelas Parjuni.
 
Parjuni berujar tidak sepakat apabila merosotnya harga ayam beberapa waktu lalu dipicu oleh broker (bakul/ pedagang perantara). Sebab, para pedagang perantara ini membeli ayam dari peternak sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka. 
 
"Jadi kalau dia bermain untuk menenkan harga kita, enggak juga. Karena produsen saat itu banyak langsung menawarkan ke suatu broker. Misal kamu broker, kita punya banyak (stok), akhirnya kita menuju ke kamu semua. Kamu tidak menawar, tapi kita langsung beri harga Rp10 ribu misalnya. Peternak lain karena ingin dibeli beri harga Rp9.500 dan yang lainnya beri harga Rp9 ribu. Harga ayam jadi turun," jelas Parjuni.
 
Melimpahnya stok ini yang dinilai para peternak sebagai pemicu merosotnya harga ayam. Menurut Parjuni, risiko budidaya ayam ras yang paling rawan memang berada di tingkat produsen. 
 
"Kalau ayam tidak diambil pada saat umur panen, kita harus beri makan setiap hari, kita jadi semakin rugi," terang Parjuni.
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif