Rio, 48, merupakan dosen Ilmu Sejarah di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Kecintaan Rio bersepeda membuatnya selalu mengendarai sepeda hampir setiap hari.
Bahkan, kegiatan itu ia lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga kini pun, Rio tak pernah lepas mengayuh sepeda.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Sejak kecil saya sudah naik sepeda. Waktu kuliah juga kalau ke kampus, ya, naik sepeda," kata Rio ditemui di USD Yogyakarta, Rabu (27/05/2015).
Rio mulai mengenal sepeda sejak duduk di kelas tiga SD di Belitung. Saat ia pindah untuk melanjutkan studi di UGM Yogyakarta, Rio tetap memakai sepeda untuk ke kampus. Meskipun, dia juga memiliki motor.
Bahkan, saat ia sudah menjadi dosen pada 1992 dan juga berkeluarga, ia tetap aktif beraktivitas menggunakan sepeda.
Karena profesinya sebagai dosen, para mahasiswanya pun tak susah untuk mengetahui apakah Rio datang ke kampus atau tidak. Cukup melihat di tempat parkir apakah ada sepeda ontel tua, itu sudah menjadi tanda keberadaan Rio.
Rio mengaku tak memiliki alasan khusus memilih selalu menggunakan sepeda. Bagi dia, selain ramah lingkungan, bersepada juga menjaga fisiknya tetap sehat.
"Enak aja naik sepeda, nggak ada alasan apa-apa. Memberi contoh mahasiswa juga nggak. Mereka tetap pakai motor ke kampus," pungkasnya.
Kini, sebagai pesepeda, dia mengeluhkan perubahan jalanan yang terjadi di perkotaan, termasuk di Yogyakarta. Saat masih kuliah, Rio mengaku masih bisa santai dan menikmati laju di jalan raya sembari memboncengkan sang pacar yang kini telah menjadi istrinya.
"Pada 2004 pernah ada program kampus hijau. Kita ke mana-mana pakai sepeda masih asyik, tapi sekarang jalanan sudah padat kendaraan, kadang ngeri juga," ucapnya.
Hobi Rio bersepeda tak dilakukan sendiri. Ia sempat membuat sejenis kegiatan tur singkat dari candi ke candi bersama tetangganya.
Setiap hari Minggu, dia mengajak tetangganya bersepeda bersama berkeliling candi di sekitar Candi Prambanan yang tak jauh dari komplek rumahnya.
Tidak sekadar bersepeda, di setiap perjalanan ke candi, bahkan Rio menyempatkan diri menjelaskan sejarah candi dan kisah-kisah seputar candi yang mereka singgahi.
"Sudah kayak guide profesional. Kadang sampai saya kehabisan cerita," ungkapnya.
Candi terjauh yang pernah ia jelajahi bersama tetangganya adalah candi yang ditemukan di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) yang beralamat di Jalan Kaliurang. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari tempat tinggal Rio. "Sampai sana malah ngos-ngosan," kata Rio.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
