Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kota Solo, Entis Rahmawati, mengatakan selain menyambut hari pangan sedunia, lomba juga bertujuan mengangkat kembali kekayaan kuliner tradisional.
“Disebut lenjongan karena semua makanan tradisional tersebut dijadikan satu, terdiri dari ketan hitam, ketan putih, gatot, tiwul, cenil, klepon dan lopis. Makanan ini diolah dari bahan-bahan lokal seperti tepung singkong, ubi dan lain sebagainya,” kata Entis, kepada Metrotvnews.com di Balai Kota Solo, Selasa (13/10/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Entis mengatakan, kemasyhuran lenjongan sudah redup di dalam benak generasi masa kini. Padahal, cita rasa lenjongan dan kandungan gizinya lebih baik dibanding makanan modern.
“Makanya kita gelar lomba ini. Harapannya ibu-ibu lebih sering memasak makanan lenjongan ini di rumah untuk anak-anak mereka,” kata dia.
Selain lomba cipta dan kreasi lenjongan, Pemkot Solo juga menyelenggarakan bazar pangan lokal yang akan diikuti oleh 100 peserta pada Minggu, 18 Oktober.
"Tema kegiatannya pemberdayaan masyarakat sebagai penggerak ekonomi menuju kedaulatan pangan, mudah-mudahan masyarakat mampu menggunakan bahan pangan asal negeri sendiri," ujar Entis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SBH)
