Joint sebetulnya meloloskan lima orang calon untuk mengikuti konvensi itu. Namun, satu kandidat, Adrie Primera Nuary mengundurkan diri karena memilih karirnya sebagai salah satu pegawai bank di Jakarta.
Dalam konvensi itu, ada satu tim panel berisi sembilan orang yang mendalami kemampuan para kandidat. Sembilan orang tersebut yakni Busyro Muqoddas (ketua tim panel), Zainal Arifin Mochtar, Edi Suadi Hamid, Bobi Setiawan, Herry Zudianto, Budi Wahyuni, Achmad Nurmandi, ST Sunardi, dan Robby Kusumaharta. Tim panel tersebut juga disertakan 614 ketua rukun warga dari Kota Yogyakarta.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Sejumlah pertanyaan dari tim pansel disampaikan kepada empat kandidat. Mulai dari masalah sosial, tata kota, serta dunia usaha yang bisa dimajukan di Yogyakarta.
Salah satu kandidat, Garin Nugroho mengatakan wacananya menyatukan kampung, komunitas, dan kampus, apabila terpilih menjadi wali kota Yogyakarta. Selain itu, lanjut Garin, juga disertai dengan kerja sama pengusaha dan birokrasi. "Pembangunan itu dimulai dari tingkat kecamatan," ujar Garin.
Menurut dia, konsep itu sangat berpeluang untuk terlaksana dengan dukungan kekayaan potensi yang dimiliki Kota Yogyakarta. "Yogya memiliki banyak manusia-manusia unggul. Ibarat bendungan tapi kanalnya tidak pernah sampai ke warga agar mampu menyuburkan lahan warga," kata dia.
Kandidat lain, Rommy Heryanto mengungkapkan akan merelokasi warga yang berada di baratan sungai. Mengingat, saat terjadi hujan, warga yang tinggal di bantaran sungai selalu menjadi korban banjir.
Konvensi terbuka ini akan menjadi tahapan terakhir yang dilakukan Joint. Setelah ini, tim pansel akan menentukan dua orang, calon wali kota dan wakil wali kota Yogyakarta, yang akan diusung berpasangan dalam Pilkada 2017.
"Kami harapkan cara ini bisa memunculkan sistem yang memang transparan sehingga menghasilkan pemimpin yang layak bagi warga Kota Yogyakarta," kata fasilitator Joint, Yustina Neni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
