Dengan mengusung tema Dandan, panitia membuka FKY dengan prosesi pawai budaya "Edan- edanan" yang diikuti 36 kelompok warga dari seluruh DIY. Dalam pawai ini seluruh kelompok memamerkan seni tradisional dan modern seperti seni musik, tari dan teatrikal di ruas jalan Kaliurang.
Pawai dimulai dari Gedung UGM pukul 15.00 WIB melintasi Jalan Kaliurang Bulak Sumur dan berakhir di perempatan Selokan Mataram. Masing-masing kloter diberi waktu sekitar 3-5 menit untuk menampilkan pertunjukkan seni di depan jajaran pemerintah daerah.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Beragam seni tradisional Jawa seperti Jatilan, Pawai Pasukan Bregodo (prajurit keraton), dan penari Jawa ditampilkan dalam pembukaan pawai.
Ketua panitia FKY, Ari Wulu mengatakan tema Dandan dipilih sebagai upaya perbaikan fisik atau nonfisik warga Yogyakarta agar mampu menyajikan pertunjukan seni yang berkualitas dan mendidik.
"Dandan dalam bahasa Jawa memuat dua aktivitas: bersolek dan berbenah. Bersolek identik dengan aktivitas yang menuntun pada kualitas estetika, paras atau penyajian. Sedangkan berbenah identik dengan upaya perbaikan," ujarnya, di UGM, Rabu (19/8/2015)
FKY yang rutin digelar setiap tahun ini memiliki visi dan misi melestarikan dan mengembangkan seni budaya DIY.
Selain menawarkan panggung dan pasar seni budaya, FKY 27 juga memiliki program sastra, yakni pembacaan prosa, pemutaran bioskop FKY, kegiatan-kegiatan workshop seni rupa, lokakarya, serta diskusi seni yang semuanya terbuka bagi masyarakat luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
