Dokter Ferihana. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Dokter Ferihana. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Ferihana, Dokter yang Tak Pernah Tentukan Tarif

kesehatan
Ahmad Mustaqim • 23 April 2016 16:33
medcom.id, Bantul: Dokter Ferihana rela tak diberi bayaran oleh pasiennya yang berobat. Membuka klinik di Dusun Sumberan Nomor 297, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah banyak pasien yang tak membayar sepeser pun setelah mendapat pengobatan.
 
"Kami tidak menentukan tarif (pengobatan). Pasien bisa seikhlasnya memberikan infaq. Kalau pasien tak mampu, tak usah bayar," kata Ferihana kepada Metrotvnews.com, Sabtu (23/4/2016).
 
Perempuan keliharan 19 Februari 1981 ini membuka klinik berobat sejak 2012. Ia memanfaatkan rumah sederhana peninggalan kakeknya. Di rumah sederhana itulah, tetangga hingga orang dari luar kota datang berobat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kakek selalu suka membantu orang yang membutuhkan. Saya ingin meneruskan semangat kakek," kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia ini.
 
Ferihana selalu terbuka bagi siapa pun yang hendak berobat ke kliniknya dalam 24 jam. Kebanyakan, mereka yang berobat adalah dari kalangan tidak mampu atau miskin. Namun, ada pula pasien dari luar Yogyakarta yang pernah berobat kepadanya dan berobat kembali.
 
Perempuan yang mengenakan cadar ini mengaku tak bisa memastikan berapa pasien yang datang saban harinya. Akan tetapi, ia masih ingat beragam penyakit yang ditangani, misalnya tekanan darah tinggi, batuk, pilek, dan adapula pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.
 
"Namanya orang sakit, (saya) tidak mau membebani dengan soal lain. Apalagi yang sakit biasanya orang miskin. Sudah lelah kerja, uangnya biasanya hanya cukup untuk makan," katanya.
 
Ia sempat mendapat anggapan sinis dari sejumlah orang ketika tak memasang tarif. Baginya, tindakan yang ia lakukan hanya demi tujuan kemanusiaan. Untuk membiayai klinik, Ferihana menggunakan sistem subsidi silang dari pendapatannya sebagai dokter di rumah sakit dan klinik kecantikan.
 
"Para dokter selayaknya kayak gini. Di luar negeri banyak juga. Hanya di Indonesia yang seperti belum biasa," kata dia.
 
Dalam menjalankan klinik itu, Ferihana sempat mengajak sejumlah rekan seprofesi dokter. Ferihana malah memberikan fasilitas kendaraan untuk rekannya.
 
"Tapi sekarang gak datang lagi. Saya tidak menyalahkan mereka karena itu memang panggilan jiwa masing-masing," katanya. 
 
Pergi ke Daerah Pelosok Beri Pengobatan Gratis
 
Ferihana tak hanya membuka klinik dalam memberikan pelayanan kesehatan. Saban hari Minggu, bersama dokter yang ia sebut Tim Muslim Medical, datang ke daerah pelosok untuk memberi pengobatan gratis. Misalnya, ke Gunungkidul, Kulon Progo, bahkan hingga ke Sragen, Jawa Tengah.
 
"Waktu ke Gunungkidul pernah diberi mangga. Gak tahu berapa, mangganya dikemas dalam plastik," kata dia.
 
Ferihana mengaku sudah terbiasa dengan mengabdi seperti itu. Sebab, ia pernah memberikan pelayanan kesehatan keliling ke sejumlah daerah di Indonesia sekitar 2009. Seperti di Kalimantan, Sumatera, dan Jakarta.
 
Saat ditanya sampai kapan memberikan pelayanan kesehatan, Ferihana menjawab, "Selamanya. Saya berdoa kepada Allah supaya bisa sekolah lagi. Saya juga ingin punya klinik rawat inap yang lebih besar."
 
Baginya, jika memiliki klinik rawat inap besar, ia bisa memberikan pelayanan lebih bagi warga tak mampu. "Kasihan kalau warga miskin harus rawat inap di luar yang biayanya lebih satu juta."
 
Tak hanya berbuat kemanusiaan dalam ranah kesehatan, Ferihana juga menjadi pengajar les gratis. Ia menjadi pengajar les bahasa Arab tanpa dibayar bagi anak-anak yang ingin belajar.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif