Kepala Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga, K. Baskara Aji, mengatakan ada 12 siswa yang tak lulus. Semuanya adalah siswa SMK yang terdiri dari 8 siswa SMK di Yogyakarta, 1 di Bantul, 1 di Kulon Progo, 1 di Gunung Kidul, dan 2 di Sleman.
"Tahun lalu kalau tidak salah yang tidak lulus ada 8 orang. Ada siswa SMA dan SMK. Tahun ini semuanya dari SMK," ujar Baskara Aji, di Yogyakarta, Sabtu (7/5/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Nilai rata-rata UN setiap kota dan kabupaten di Yogyakarta juga menurun 3,73 poin dibandingkan tahun lalu. "Nilai rata-rata UN 2015 61,14. Tahun ini menjadi 57,41," kata Baskara.
Tahun lalu rata-rata nilai di Kota Yogyakarta 64,51, Bantul 61,00, Sleman 59,97, Kulon Progo 57,60, dan Gunung Kidul 59,96. Tahun ini di Kota Yogyakarta menjadi 61,20, Bantul 56,46, Sleman 56,31, Kulon Progo 54,14 dan Gunung Kidul 53,52. "Kami belum menyimpulkan penyebab penurunan nilai UN ini," ujar dia.
Disdikpora akan menganalisis dan mengevaluasi 20 sekolah dengan peringkat terendah untuk mengetahui penyebab memburuknya nilai UN siswa.
Melinda Purnama Kurnia, siswi SMAN 3 Yogyakarta, mengakui soal UN tahun ini lebih sulit. Ia yang sudah berkali-kali mengikuti tryout dan mengerjakan soal ujian tahun lalu masih merasa kesulitan mengerjakan soal.
"Tahun ini ada beberapa soal yang level kesulitannya setara soal olimpiade. Lalu soal saat tryout sangat berbeda dengan soal UN," jelas siswi IPA 1 ini.
Perubahan cara mengerjakan soal berbasis kertas atau paper based test (PBT) menjadi berbasis komputer atau computer based test (CBT) dinilai memengaruhi penurunan nilai.
"Kami biasa ngerjain ujian di pagi hari. Sekarang ada beberapa yang di sore hari. Jadi, konsentrasinya berkurang. Karena sudah deg-degan dan keburu gelisah menunggu jam ujian di sore hari," kata Melinda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
