Sartini mengaku dari Februari hingga September 2016 sempat disekap di rumah majikannya berinisial AC, di Jalan Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta. Dalam peristiwa penyekapan itulah, putranya yang masih berusia 1,5 tahun juga mendapat tindak kekerasan dari majikan.
Bekerja dengan majikannya sejak 2014, Sartini awalnya tak mendapatkan tindakan tak mengenakkan dari majikannya. Ia mengaku sudah beberapa kali mengikuti majikannya yang asal Boyolali, Jateng berpindah tempat tinggal.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Baca: Sadis, Balita Disiksa Hingga Cacat
"Dulu di Klaten, Sukoharjo (Jateng), dan terakhir di Bantul," ujarnya saat ditemui di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polda DIY, Kamis (17/11/2016).
Sartini mengaku, perilaku majikan berubah ketika usahanya perlahan redup. Berulangkali Sartini mendapat bentakan dan juga kekerasan fisik dari majikan.
"Saya sering dibentak (majikan) dan menjadi ringan tangan. Saya tidak boleh keluar (rumah)," kisahnya.
JM, putra Sartini tak luput dari tindak kekerasan majikan. Sartini mengaku, berulangkali majikannya melakukan tindak kekerasan kepada anaknya. Mulai dari menempelkan besi panas, memasukkan ke dalam mesin cuci, mematahkan gigi dengan tang, hingga memasukkan bocah itu ke dalam kulkas. Bahkan, meski JM sudah menangis berulang kali, sang majikan tak menggubris.
"Katanya majikan, bikin sial. Saya tak berani menolong (JM) karena diancam," ujarnya.
Pada 18 September lalu, Sartini berhasil kabur bersama anaknya dari rumah AC. Berhasil keluar, Sartini pergi ke Klaten. Tak selang lama, ia pulang ke Pucungsari, Jebres, Solo.
Usai merasa tenang, Sartini memberanikan diri melaporkan kasus itu ke Polda DIY bersama kerabatnya, pada 15 November. Kasus tersebut kini sedang ditangani Polda DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
