Para Seniman memainkan angklung sambil amenyuarakan tuntutan kepada anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta. (Metrotvnews.com/Patricia Vicka)
Para Seniman memainkan angklung sambil amenyuarakan tuntutan kepada anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta. (Metrotvnews.com/Patricia Vicka) (Patricia Vicka)

Akan Ditertibkan, Seniman Angklung Jalanan Yogya Protes ke DPRD

pengamen jalanan
Patricia Vicka • 10 April 2017 17:09
medcom.id, Yogyakarta: Ratusan pemain angklung jalanan yang tergabung dalam Paguyuban Angklung Yogyakarta mendatangi Kantor DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta di Jalan Malioboro, Senin, 10 April 2017. Mereka mengeluhkan tindakan Satpol PP yang hendak menertibkan mereka.
 
Para seniman jalanan itu menyuarakan tuntutan dengan memainkan angklung di depan lobi DPRD DIY. Beberapa dari mereka membawa spanduk protes. Di antaranya, "kami seniman, bukan gelandangan," dan "Satpol PP cabut surat peringatan".
 
Kordinator aksi dari LKBH Pandawa, Sugiharto, menjelaskan, pemerintah melalui Satpol PP mengeluarkan surat peringatan 1 dan 2. Isinya, meminta para pemain angklung tidak beroperasi lagi di jalanan karena dianggap sebagai gelandangan dan pengemis (gepeng).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami bukan gepeng, tapi kami seniman. Keberadaaan kami selama ini tidak pernah mengganggu ketertiban dan kenyamanan pejalan kaki di trotoar," ujar  Sugiarto di DPRD DIY. 
 
Menurutnya, seniman angklung jalanan seharusnya dibina dan dilindungi. Sebab menjadi ciri khas Yogyakarta dan menghibur para wisatawan dan pengendara yang sedang mengunggu di lampu merah. 
 
Wakil Ketua DPRD DIY Dharma Setiawan yang menerima para seniman meminta eksekutif untuk berdiskusi dan memusyawarahkan kembali permasalahan ini.
 
"Dalam waktu dekat kami akan undang Satpol PP, Dinas Sosial dan pihak terkait untuk sama-sama membicarakan ini," pungkasnya.
 
Terpisah, Kepala Satpol PP DIY GBPH Yudaningrat menegaskan pihaknya tidak akan mencabut surat peringatan kepada komunitas angklung. Sebab aktivitas mereka ini sudah mengganggu pengguna jalan karena pergerakannya sudah sampai di bahu jalan.
 
"Mereka juga meminta uang pada pengendara. Ini jelas melanggar Perda Penyelenggara Lalu Lintas dan Perda Penanganan Gepeng," tegasnya melalui sambungan telepon.
 
Pihaknya sudah menawarkan solusi dengan pengaturan wilayah pertunjukan seni. Para seniman angklung diperbolehkan beraksi di beberapa tempat seperti depan mal, hotel, dan pasar.
 

(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif