NEWSTICKER
orang tua yang mengeluhkan kesulitan mendaftarkan anak berkebutuhan khusus  ke sekolah negeri. Medcom.id-Ahmad Mustaqim
orang tua yang mengeluhkan kesulitan mendaftarkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah negeri. Medcom.id-Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Anak Berkebutuhan Khusus Kesulitan Mendaftar Sekolah Negeri

PPDB 2019
Ahmad Mustaqim • 02 Juli 2019 14:00
Yogyakarta: Anak berkebutuhan khusus di Yogyakarta mengalami hambatan saat pendaftaran peserta didik baru (PPDB) di SMP negeri. Musababnya, mereka belum mengantongi nilai ujian nasional (NUN). Beberapa bahkan ditolak ketika mendaftar di SMP negeri. 
 
Rosmaya mengalaminya. Dia kesulitan mendaftar karena nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia milik Oza, anaknya, belum keluar. Rosmaya disarankan ke Dinas Pendidikan saat bertanya NUN Bahasa Indonesia ke sekolah. 
 
"Nilai di sekolah bermasalah. Bahasa Indonesia masih nol. Ada (soal) uraian terisi semua. Kata kepala sekolah belum keluar. Alasannya dari dinas belum menyelesaikan," kata Rosmaya saat di Kantor Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa, 2 Juli 2019. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi itu mempersulit keinginan sang anak untuk masuk ke SMP negeri. Selain itu, Rosmaya pun diminta rekomendasi rujukan sekolah yang siap menerima siswa disabilitas saat mendaftar ke SMP negeri. Walhasil, Rosmaya memilih mendaftarkan anaknya ke SMP Muhammadiyah 2 Depok, Sleman. 
 
"Memang nilai tak terpengaruh. Tapi ijazah penting. Kalau ada 0 ini akan tidak baik," ujarnya. 
 
Dwi Handayani, yang juga wali murid, mengaku pernah mendaftarkan anaknya, Mutiara, ke SMP negeri di Kabupaten Kulon Progo. Namun, ditolak secara halus dengan alasan tak bisa menerima anak berkebutuhan khusus. 
 
"Lalu saya tanya ke Dinas Pendidikan DIY, diarahkan ke Dinas (Pendidikan) kota. Saat datang ke sana, aturan baru dari pusat katanya belum keluar," ujar perempuan yang tinggal di Pandeyan, Condongcatur, Kecamatan Depok, Sleman ini. 
 
Alhasil, Dwi memberikan pilihan kepada anaknya, apakah akan sekolah di SMPN 13 atau SMPN 16 Yogyakarta. Sebab, sang anak meminta bersekolah di area Kota Yogyakarta untuk mendapat pengetahuan dan teman baru. 
 
Namun, Dwi masih menemui hambatan saat hendak mendaftar di sekolah yang dituju. Salah satunya, kuota disabilitas yang tidak jelas dan adanya ketentuan disabilitas yang diterima. 
 
Dwi sempat berusaha meyakinkan dengan prestasi anaknya. Yakni, juara 2 olahraga futsal di DIY dan memiliki kemampuan olahraga atletik renang di nomor individu. 
 
"Kendalanya hanya saat pembicara menghadap papan tulis. Saya jelaskan, guru saat menjelaskan bisa berhadapan dengan siswa, dan tak menjelaskan ketika menghadapi papan tulis," bebernya.
 
Hingga kini, putri Dwi belum dapat kepastian bersekolah. Sang anak masih gelisah. 
 
Seorang wali murid berkebutuhan khusus, Endang, mengatakan anaknya sejak awal ingin melanjutkan ke SMP negeri. Sekolah negeri menjadi pilihan anaknya untuk melanjutkan pendidikan. 
 
Endang mengaku, anaknya sudah diterima di SMP Negeri 2 Sewon, Bantul. Padahal rumah Endang berlokasi di Kecamatan Berbah, Sleman. 
 
"Maunya (sekolah) di Sleman ketimbang di Bantul. Tapi kebijakan soal kuota siswa disabilitas tidak jelas, jadi memutuskan ke Bantul," ujarnya. 
 
Selain ketiga orang tua itu, ada sejumlah aduan yang masuk ke komite. Aduan juga berkaitan dengan nilai ujian nasional yang belum keluar sehingga menjadi hambatan mendaftar di sekolah negeri. 
 
Komisioner Bidang Aduan dan Pemantauan Komite Disabilitas DIY, Winarta, mengatakan penyandang disabilitas juga mempunyai hak atas pendidikan. Negara telah mengatur itu lewat UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Selain itu, ada juga aturan di daerah setempat yang mengatur hal serupa. 
 
"Setiap tahun kita lakukan pemantauan terkait PPDB. Tahun ke tahun ada kemajuan, tapi masih didapatkan persoalan-persoalan berkaitan dengan hak disabilitas," ujarnya. 
 
Ia menyebut, pemerintah DIY sejak 2014 sudah menyatakan menjadi daerah inklusi di dunia pendidikan. "Tak boleh ada sekolah yang menolak siswa disabilitas," tandasnya. 
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif