Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Welahan, Sundari, mengatakan, indikasi tak ramah lingkungan dari pembuatan batu bata terlihat dari kotornya rumah dan fasilitas publik yang diakibatkan debu pembakaran.
“Apalagi kalau musim kemarau berbarengan dengan puncak produksi,” ujar Sundari, Senin (5/12/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Selain bangunan, dampak buruk dari sektor usaha itu juga berimbas pada kesehatan warga. Berdasarkan laporan dari Puskesmas setempat, gangguan Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) warga yang tinggal di kawasan sekitar lokasi produksi batu bata juga meningkat.
“Bisa dibayangkan bangunan rumah saja terlihat kotor dan kumuh akibat asap dan debunya, lalu bagaimana dengan organ dalam manusia,” kata Sundari.
Terkait persoalan ini, kata Sundari, pihaknya sudah berupaya berkomunikasi dengan pemilik usaha produksi batu bata. Hanya saja, belum ada solusi. Sundari mengatakan pemerintah desa tak bisa melarang produksi batu bata lantaran berkaitan dengan aktivitas perekonomian warga setempat.
“Perlu ada rintisan industri pembuatan batu bata yang lebih ramah lingkungan. Tapi ini juga butuh peran aktif berbagai kalangan,” terang Sundari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(MEL)
