Kasus ini terungkap saat salah satu orang tua korban mencari anaknya yang hilang dua pekan silam. Orang tua korban mengetahui anaknya bekerja di lokalisasi Peleman setelah bertanya ke sejumlah teman korban.
Benar, saat didatangi, anaknya ada di sana. Korban menjadi PSK di salah satu wisma yang dikelola muncikari berinisial R. Korban lantas dibawa ke Rumah Sakit Mitra Siaga, Kramat, untuk divisum.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Korban F bercerita, awalnya dia dijanjikan bekerja sebagai penjaga warung oleh P, tetangganya. Namun, F justru dibawa ke lokalisasi di tepi jalur pantura. F menolak, tapi diintimidasi. Ia lantas dipaksa melayani seorang pelanggan.
"Saya sudah menolak, tapi saya diancam mau dipukuli. Dan saya juga sering dimarahi oleh P dan R," kata F, yang masih duduk di bangku kelas VII SMP ini, saat ditemui di Rumah Sakit Mitra Siaga Kramat, Rabu malam (21/12/2016).
Usai melayani pelanggan, F mengaku mendapatkan upah Rp750 ribu. Uang itu tak dia terima semuanya, tapi dipotong oleh R dengan dalih sebagai sewa kamar.
Selama di wisma, F mengatakan hidupnya tak pernah tenang. "Seperti di penjara. Sebenarnya kami mau kabur, tapi selalu diawasi," kata dia.
I, orang tua F, membenarkan jika P adalah tetangganya. P bekerja sebagai pemandu lagu di tempat karaoke. Selama ini, anaknya sering bermain ke rumah P karena ada teman sebayanya.
"Mungkin anak saya diiming-imingi oleh P, sehingga dia mau ikut. Anak saya memang polos dan lugu," kata I yang mengaku sudah melaporkan kasus ini ke polisi.
Kasus ini sudah ditangani Polres Tegal. I berharap pelaku dihukum atas perbuatan mereka. "Saya tak terima, dia harus dihukum seadil-adilnya," ujar I.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
