"Monitoring prekursor Stasiun Pundong selama satu minggu (25 Mei hingga 2 Juni) tidak menunjukkan adanya perubahan paramater (temperatur, tekanan, temperatur bawah permukaan dan emisi radon). Sehingga, kemungkinan tidak ada kaitannya dengan akan terjadinya gempa bumi," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami (PGBT) BMKG, Mochammad Riyadi, di Yogyakarta, Rabu (3/6/2015).
Ia memperkirakan fenomena cacing aneh itu terjadi akibat perubahan cuaca ekstrem secara tiba-tiba di daerah Bantul dan sekitarnya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Keluarnya cacing tersebut dimungkinkan akibat guyuran hujan dua hari berturut-turut setelah tidak hujan sama sekali pada 27 hingga 30 Mei. Sebaliknya, pada 31 Mei hingga 1 juni Bantul dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup signifikan. "Kondisi inilah yang memungkinkan keluarnya cacing," terangnya.
Ia mengatakan fenomena itu bukan fenomena luar biasa dan masih dalam batas wajar. "Sama seperti halnya keluarnya laron setelah hujan kemudian tidak hujan," pungkasnya.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, mengatakan peristiwa keluarnya cacing serempak dari dalam tanah adalah respon alamiah dari binatang pada perubahan musim.
Ia menegaskan berdasarkan informasi yang ia miliki, kecil kemungkinan terjadi gempanya di Yogyakarta saat ini.
"Gempa Yogya 1943 kemudian 2006, dan saat ini 2015. Pertanyaannya, apakah mungkin dalam sembilan tahun dapat mengumpulkan energi untuk terjadi gempa seperti 2006 dan 1943? Rasa-rasanya kecil kemungkinan, bahkan dapat dikesampingkan," tegasnya melalui pesan singkat pada Metrotvnews.com.
Sebelumnya, masyarakat Bantul dilanda cemas akan adanya gempa besar akibat keluarnya banyak cacing tanah di wilayah Bantul. Fenomena aneh ini pernah terjadi beberapa seminggu sebelum gempa dahsyat Yogyakarta pada 2006.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
