Dua gamelan yang menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di tlatah Jawa ini hanya dibunyikan sekali setahun. Tepatnya, tanggal 5 Rabiul Awal atau Mulud dalam bulan Jawa, bertepatan 5 Desember 2016.
Gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu dibunyikan oleh niyaga selama tujuh hari berturut-turut.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta, KPA Winarno Kusumo, mengungkapkan, sebelum gamelan dibunyikan terdapat tradisi jamasan dan Miyos Gongso.
Miyos gongso diartikan sebagai keluarnya gamelan dari Langen Katon, Keraton Kasunanan Solo menuju Masjid Agung Solo.
Baca: Sekaten, Cara Keraton Ajak Rakyat Peluk Islam
“Di Masjid Agung, gamelan diletakkan di bangsal sebelah utara dan selatan untuk dibunyikan,” ungkapnya.
Pembacaan ayat suci Alquran dan doa-doa mengawali ditabuhnya dua perangkat gamelan untuk pertama kali.
Saat pertama gamelan dibunyikan, masyarakat yang telah berkumpul, berebut janur dan mengunyah kinang. Mereka percaya, mengunyah kinang saat pertama gending berbunyi dapat membuat awet muda. Beberapa masyarakat juga percaya janur dari Keraton Kasunanan membawa berkah.

Ibu-ibu mengunyah sirih atau kinang saat pertama kali gamelan dibunyikan di Masjid Agung.
Syiar Sunan Kalijaga
Permainan gending Jawa di pelataran masjid, kata Winarno, berawal dari Sunan Kalijaga. Kala itu, murid Sunan Bonang tersebut, membuat Gamelan Nogo Wilogo.
Alat musik bernada pentatonis itu lantas ditempatkan di halaman Masjid Agung. Tujuannya, untuk menarik minat masyarakat.
Warga yang ingin melihat gamelan tersebut diwajibkan membaca syahadatain atau dua kalimat syahadat. Namun, syarat itu sudah lama tak berlaku. "Dari kata syahadatain itulah kini masyarakat mengenal istilah Sekaten,” ujar Winarno Kusumo.
Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, dibuatkan seperangkat gamelan bernama Kiai Guntur Sari yang dibunyikan tujuh hari sebelum peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Separuh gamelan tersebut harus diletakkan di Yogyakarta usai Babad Giyanti, tepatnya saat masa kepemimpinan Pakubuwono III.
Baca: Abdi Dalem Keraton Surakarta Kirab Gamelan
Gamelan tersebut kemudian dilengkapi di era Pakubuwono IV. “Sinuhun (raja) membuat seperangkat gamelan lagi yang dinamakan Kiai Guntur Madu,” terang dia.
Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari memainkan gendhing khusus, yakni Rambu dan Rangkung. Rambu berasal dari bahasa Arab Rabbuna yang berarti 'Tuhan'. Sedangkan Rangkung berasal dari kata Roukhun atau 'jiwa yang agung'. Tak heran, irama yang dihasilkan adalah irama yang menenangkan.
Kedua gamelan saling melengkapi atau yang disebut sekati (seimbang). Dari kata ini pula kata Sekaten tercipta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
