Beberapa literatur menyebut, migrasi orang Tiongkok ke Asia Tenggara bermula saat kekuasaan Dinasti Tang berakhir. Sejarah Tiongkok lama menyebut, pada 1413, pendeta Buddha bernama Fa-Hien singgah ke Pulau Jawa.
Gelombang migrasi bertambah setelah Dinasti Ch'ing, pengganti Dinasti Ming, kembali membuka perdagangan dengan Asia Tenggara. Orang-orang dari Provinsi Hokkian dan Kwantung bermigrasi, termasuk ke Nusantara.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Saat bermigrasi, awalnya bangsa Tiongkok tak membawa serta istri. Di bumi Nusantara, mereka menikahi gadis lokal. Dari situ, proses asimilasi makin kental terasa.
Wujud akulturasi tak saja dalam bentuk bangunan. Mulai dari upacara adat hingga sajian kuliner pun tak luput dari pengaruh Tiongkok. Ambil contoh, baso. Makanan daging bulat itu dibawa bangsa Tiongkok. Ba berarti 'daging babi' dan so 'bulat'. Oleh warga lokal daging babi diganti daging sapi.
Aneka warisan budaya itu menyebar di hampir seluruh Pulau Jawa--meski di Sumatera juga tak kalah kentalnya, mengingat ada Sriwijaya di sana. Di Semarang, ada Masjid Cheng Ho hingga kuliner lunpia, wingko babat, dan soto.
Telur asin di Brebes pun dipengaruhi Tiongkok. Awalnya, telur bebek yang diasinkan itu menjadi salah satu persembahan Dewa Bumi.
Di Yogyakarta, ada wayang Cina-Jawa. Sekilas seperti wayang umumnya, dengan gamelan dan ornamen Jawa. Namun, ceritanya diambil dari legenda Tiongkok seperti Sie Djin Koei, Sun Go Kong dan Kisah Tiga Negara (Sam Kok). Cara penyajian mengikuti pola pertunjukan wayang kulit purwa. Juga dengan bahasa Jawa.
Beragam produk budaya itu dilahirkan dan dirawat oleh keturunan Tionghoa dan warga lokal, hingga saat ini. Seperti diutarakan Go Djien Twan, yang hampir 35 tahun memainkan peran Semar di kesenian Wayang Orang di Solo.
Sekadar upaya dokumentasi ulang, beberapa hari ke depan Metrotvnews.com akan menyajikan laporan tentang akulturasi Tiongkok-Jawa. Tentu saja, tidak semua daerah bisa dituliskan. Kami hanya akan memotret akulturasi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Itupun cuma sebagian.
Selamat Tahun Baru Imlek 2567. Semoga kesuksesan melimpahi kita di tahun Monyet Api. Gong xi fa cai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
