Akhir Februari 2017, rombongan dari DPRD DIY berkunjung ke Bandara Kualanamu. Mereka melihat beberapa kemiripan dari Bandara Kualanamu dengan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kulonprogo.
Pada 2008, Bandara Kualanamu dibangun. Fasilitas publik itu dibuat untuk mengakomodasi kapasitas penumpang yang tak muat lagi di Bandara Polonia Medan. Dengan kata lain, Bandara Kualanamu dibangun untuk menggantikan peran Bandara Polonia Medan sebagai fasilitas penerbangan komersil.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Selain itu masalah keselamatan penumpang juga menjadi penghitungan. Bandara Polonia itu kan berlokasi di tengah-tengah kota dan dekat dengan perumahan," kata Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Bappeda Kabupaten Deli Serdang, Jefri Siregar, seperti yang ditulis Metrotvnews.com, Senin 13 Maret 2017.
Perencanaan bermula pada 1997. Otoritas merencanakan sebuah bandara besar yang berlokasi jauh dair pusay kota. Tapi rencana itu menguap karena krisis moneter melanda Indonesia.
Pada 2005, pesawat Mandala Airlines jatuh tak jauh dari Bandara Polonia. Pesawat menimpa puluhan bangunan dan mobil di Jalan Jamin Ginting.

(Bandara Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara, Metrotv - Surya Dharma)
Pesawat mengangkut 109 penumpang yang dalam penerbangan dari Medan menuju Jakarta. Satu di antara penumpang yaitu Gubernur Sumut Rizal Nurdin.
Berkaca dari kejadian tersebut, pada 2008, otoritas kembali mengemukakan rencana pembangunan bandara. Pemerintah sepakat membangun bandara di Deli Serdang yang berlokasi sejauh 39 Km dari pusat Kota Medan.
Lalu, tutur Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Deli Serdang Janes Manurung, pemerintah membebaskan lahan seluas 1.600 hektare di dua kecamatan di Deli Serdang. Lahan itu milik PT Perkebunan Negara II, perkebunan swasta, dan lahan milik warga.
"Bandara mulai dibangun tahun 2008, tapi baru serius dikebut tahun 2011. Mulai dioperasikan tahun 2013," jelas Janes.
Janes mengaku tak sulit membebaskan lahan. Gejolak dari masyarakat pun tak terlalu terasa. Tentunya hal itu berbeda dari pembebasan lahan untuk pembangunan Bandara Kulonprogo.
"Hanya ada sedikit konflik dengan mantan pegawai PT PN II yang sudah menempati lahan tanpa izin. Namun bisa diselesaikan," lanjut Janes.

(Aktivitas di Bandara Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara, MTVN - Patricia Vicka)
Kemudian pada 2013, Bandara pun beroperasi dengan landasan pacu seluas 3,75 Km. Kapasitas penumpang mencapai 25 juta orang per tahun.
Masalah lain pun muncul yaitu jalan yang menjadi akses dari Medan menuju Kualanamu. Hingga akhirnya, pemerintah membangun jalan nontol menghubungkan Kota Medan menuju Bandara.
"Baru dipikirkan infrastruktur jalan. Maka diawal jalan desa yang dipakai. Jadinya akses ke bandara selalu macet," jelas Janes.
Plt Sekwan DPRD DIY Benny Suharsono mengaku belajar banyak dari pembangunan Bandara Kualanamu. Senasib dengan Kualanamu, NYIA dibangun untuk menggantikan Bandara Adisucipto Yogyakarta yang mulai over kapasitas penumpang.

(Maket Bandara Kulonprogo, istimewa)
Lantaran itu, pemerintah menyiapkan landasan sepanjang 3,6 Km di NYIA. Bandara baru itu akan mengangkut 21 juta penumpang. Diperkirakan, NYIA mampu menjadi tempat parkir 28 pesawat berukuran besar.
NYIA, kata Benny, memiliki masterplan yang lebih lengkap. Otoritas telah menyiapkan moda transportasi dan akses yang menghubungkan beberapa kota di Yogyakarta menuju Bandara.
Misalnya, kereta api dari Stasiun Tugu ke Stasiun Kedundang. Akses itu kembali diaktifkan untuk beroperasi menuju bandara.
"Sementara jalan nasional akan segera dibangun melalui jalur pantai selatan," ungkap Benny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
